Bellingham Bersinar, Inggris Hancurkan Kroasia 7-0

Bellingham bersinar saat Inggris menghancurkan Kroasia 7-0 dalam lanjutan Nations League di Rijeka. Gelandang muda itu menjadi pusat perhatian dengan penampilan dominan, mencetak dua gol dan terlibat dalam beberapa gol lainnya. Kemenangan besar ini menunjukkan kualitas tim Inggris yang solid dan efektif sepanjang pertandingan.

Namun, pertandingan ini juga menyisakan kontroversi besar terkait sanksi UEFA. Stadion seharusnya kosong dari penonton akibat hukuman rasisme, tetapi kenyataannya dipenuhi sekitar 6.000 anak-anak. Situasi ini memicu kritik tajam karena dianggap mengirim pesan yang salah dalam upaya memberantas rasisme di sepak bola.

Bellingham Bersinar, Inggris Tampil Berkualitas

Sejak menit awal, Inggris tampil menekan dan mendominasi pertandingan. Thomas Tuchel menurunkan formasi menarik dengan trio gelandang Alex Scott, Elliot Anderson, dan Bellingham yang terlihat cair. Baru tujuh menit berjalan, Inggris sudah unggul 1-0 melalui gol Harry Kane setelah umpan matang dari Bellingham.

Bellingham kemudian mencetak gol keduanya pada menit ke-20 setelah aksi lincah Anthony Gordon. Gol tersebut menjadi gol kedelapannya dalam delapan pertandingan terakhir bersama Inggris, setelah sebelumnya hanya mencetak enam gol dalam 37 laga. Penampilannya benar-benar sulit dibendung dan menjadi motor serangan tim.

Inggris terus menambah gol. Gordon mencetak gol ketiga pada menit ke-38 melalui sundulan setelah umpan silang Jarell Quansah. Sebelum jeda, Bellingham berlari 80 meter untuk merebut bola dan memberikan umpan kepada Bukayo Saka yang dengan mudah mencetak gol keempat. Babak pertama berakhir dengan skor 4-0 untuk Inggris.

Kontroversi UEFA dan Sanksi Rasisme yang Diabaikan

Pertandingan ini seharusnya digelar tanpa penonton sebagai hukuman atas insiden rasisme yang dilakukan suporter Kroasia. Pada Maret lalu, massa fans melakukan pawai ke Stade de France di Paris disertai gestur Nazi dan penemuan senjata seperti batang besi, tongkat teleskopik, serta kayu tajam. Namun, alih-alih menegakkan sanksi, stadion di Rijeka justru dipenuhi 6.000 anak-anak beserta pendampingnya.

Keputusan ini dinilai sangat membingungkan. Seolah-olah pesan yang disampaikan adalah rasisme dan anak-anak adalah kombinasi yang baik. Padahal, membiarkan anak-anak mengisi stadion dalam pertandingan yang seharusnya menjadi hukuman rasisme justru mereduksi seriusnya masalah tersebut. Ini seperti menjadikan rasisme sebagai acara liburan anak-anak, lengkap dengan tiket gratis.

Kritik juga ditujukan kepada UEFA yang dianggap tidak serius menangani rasisme. Jika memang ingin memberikan pesan tegas, UEFA seharusnya menutup celah yang memungkinkan stadion tetap terisi. Sanksi tanpa penonton seharusnya benar-benar tanpa penonton, bukan dialihkan kepada anak-anak yang tidak memahami konteksnya.

Dampak bagi Inggris dan Kroasia

Selain merugikan upaya antirasisme, keputusan ini juga berdampak pada suporter Inggris. Hanya sekitar 100 fans yang diizinkan melakukan perjalanan dua jam dari Zagreb melalui jalan tol dua lajur. Meskipun demikian, suasana di Rijeka tetap menarik dengan pemandangan laut Adriatik dan perbukitan yang memukau. Stadionnya sendiri memiliki tribun terbuka yang unik, meski tribun tamu berbentuk kandang baja tertutup.

Di sisi lain, Kroasia menunjukkan masalah serius dalam budaya suporter mereka. Ini bukan sekadar kesalahpahaman budaya atau mikroagresi, melainkan makroagresi yang terkait dengan simbol supremasi kulit putih dan referensi ke Ustase, rezim boneka fasis pada Perang Dunia II. Masalah ini masih mengakar dan menjadi pekerjaan rumah besar bagi sepak bola Kroasia.

Dari kacamata permainan, Kroasia tampil mengecewakan. Luka Modric yang masuk dan keluar di babak kedua tampak seperti pemain tua di antara tim yang juga menua. Ia masih memiliki sentuhan dan kecerdasan, tetapi tidak lagi mampu mengangkat tim. Inggris terus mencetak gol melalui Kane dan Saka, menutup pertandingan dengan skor 7-0.

Konteks Lebih Luas dan Prospek ke Depan

Kemenangan ini terasa berbeda dari penampilan Inggris biasanya. Tim ini tidak hanya menang, tetapi juga tampil dengan gaya, keseimbangan, dan intensitas yang meyakinkan. Mereka terlihat seperti tim modern dengan teknik tinggi yang mampu bersaing dengan siapa pun. Penampilan ini bisa menjadi tanda kemajuan menjelang turnamen besar berikutnya.

Dengan Bellingham dan Kane di lini serang, Inggris menjadi ancaman serius. Kombinasi keduanya membuat lini depan sulit dihentikan. Jika mampu menjaga konsistensi, Inggris berpotensi menjadi salah satu tim yang diperhitungkan di level internasional, bukan sekadar tim yang tampil menjanjikan tetapi rapuh.

Sementara itu, Kroasia harus segera membenahi masalah rasisme di kalangan suporter. UEFA juga perlu mengevaluasi kembali kebijakan sanksi agar tidak menimbulkan pesan yang salah. Sepak bola seharusnya menjadi alat pemersatu, bukan justru melanggengkan perilaku diskriminatif dengan cara yang tidak serius.

Secara keseluruhan, laga ini menjadi panggung bagi Bellingham yang bersinar dan Inggris yang tampil superior. Kemenangan 7-0 menunjukkan kualitas tim, tetapi kontroversi seputar sanksi UEFA meninggalkan catatan buruk. Pesan yang salah soal rasisme membuat momen gemilang Inggris sedikit ternoda.

Ke depan, Inggris berpotensi menjadi kekuatan serius jika terus bermain seperti ini. Namun, sepak bola juga perlu menindak tegas rasisme tanpa celah. Pertandingan di Rijeka menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan rumah dalam menjaga integritas olahraga.