Performa Phil Foden kembali mencuri perhatian setelah ia mencetak empat gol dalam dua pertandingan terakhir Manchester City. Di balik lonjakan itu, manajer Enzo Maresca mengungkap bahwa ia telah beberapa kali menggelar pembicaraan dari hati ke hati dengan sang gelandang untuk membantunya kembali ke level terbaik. Pendekatan personal itulah yang disebut Maresca sebagai salah satu pemicu utama bangkitnya performa Phil Foden.
Kebangkitan ini punya arti penting, baik bagi Foden maupun bagi City. Selama dua tahun terakhir, pemain berusia 26 tahun itu kesulitan mempertahankan konsistensi, padahal ia pernah meraih penghargaan pemain terbaik versi Professional Footballers’ Association (PFA) pada musim 2023-24. Maresca sendiri bukan sosok asing bagi Foden karena pernah mengenalnya saat menjadi asisten Pep Guardiola, sehingga ia paham betul standar yang seharusnya dicapai anak asuhnya tersebut.
Pendekatan Personal Maresca kepada Foden
Maresca mengungkapkan bahwa sejak awal musim ia sudah melakukan dialog terbuka dengan Foden, setidaknya dua hingga tiga kali, dengan fokus utama pada masa-masa awal kepelatihannya di City. Ia menyebut pertemuan itu sebagai upaya menunjukkan secara langsung betapa besar peran Foden bagi tim. Menurutnya, seorang pemain perlu mendengar sendiri bahwa ia dihargai, bukan hanya menebaknya dari menit bermain.
“Mungkin ‘cinta’ bukan kata yang tepat untuk digunakan, tetapi intinya adalah menunjukkan kepadanya seberapa penting dirinya,” kata Maresca. Ia menegaskan bahwa dirinya sudah mengenal Foden sejak beberapa tahun lalu, sehingga ia tahu persis kualitas yang dimiliki sang pemain. Keyakinan itu yang ingin ia tanamkan kembali ke dalam diri Foden setelah periode sulit yang panjang.
Cara Maresca menangani Foden menunjukkan sisi lain dari kepelatihan modern, yaitu kemampuan mengelola sisi mental pemain, bukan sekadar urusan taktik di lapangan. Bagi pemain kreatif seperti Foden, rasa dipercaya sering kali berbanding lurus dengan keberanian mengambil keputusan di area pertahanan lawan. Hasilnya terlihat langsung: empat gol dalam dua laga menjadi sinyal bahwa kepercayaan diri mulai kembali.
Dua Tahun Sulit dan Standar Tinggi di Manchester City
Maresca tidak menyembunyikan fakta bahwa Foden melewati masa yang tidak mudah. Ia menilai, karena berbagai alasan, performa Foden dalam beberapa tahun terakhir belum berada di level yang diharapkan. Namun ia menolak berhenti pada penilaian itu dan memilih mengambil tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan, bukan sekadar menyoroti masalahnya.
Menurut Maresca, kualitas tim berbanding lurus dengan kualitas individu di dalamnya. Semakin banyak pemain sekelas Foden yang tersedia dalam kondisi terbaik, semakin kuat pula tim yang ia miliki. Karena itu, ia memandang pembinaan pemain sebagai inti pekerjaannya: bila pemain berkembang, tim otomatis ikut berkembang.
Ia pun menyebut sudah menjadi kewajibannya untuk membantu Foden kembali menjadi salah satu pemain terbaik di Inggris. Meski demikian, Maresca menekankan bahwa proses ini tidak bisa dinilai hanya dari satu pertandingan. Musim masih sangat panjang, dan konsistensi akan menjadi ukuran sesungguhnya dari keberhasilan kebangkitan tersebut.
Persaingan Ketat di Lini Serang Menuntut Konsistensi
Bagi Foden, kembali mencetak gol bukan berarti posisinya otomatis aman. Maresca secara terbuka menyatakan bahwa sang pemain harus tetap konsisten agar tidak kehilangan tempat di starting XI. Persaingan di lini serang City musim ini sangat padat, sehingga setiap penurunan performa berpotensi langsung berujung pada kehilangan menit bermain.
Salah satu pesaing utama Foden adalah Rayan Cherki, yang oleh Maresca disebut sebagai salah satu pemain terbaik di Eropa. Pujian setinggi itu menandakan bahwa pelatih asal Italia tersebut tidak ragu memberikan kesempatan kepada pemain lain bila kondisi di lapangan menuntutnya. Situasi ini menciptakan tekanan sehat yang justru bisa mendorong Foden untuk terus menjaga levelnya.
Dengan kata lain, pendekatan personal Maresca berjalan beriringan dengan kompetisi internal yang ketat. Ia memberi dukungan penuh, tetapi tetap menuntut hasil. Kombinasi antara kepercayaan dan tuntutan inilah yang dinilai mampu mengeluarkan versi terbaik dari seorang pemain yang sempat kehilangan momentum.
Modal City Menjelang Laga ke Aston Villa
Kebangkitan Foden datang di waktu yang tepat. Manchester City akan bertandang ke markas Aston Villa pada pertandingan tengah hari Sabtu waktu setempat dengan misi melanjutkan start sempurna di Premier League di bawah Maresca. Modal City sangat solid: tujuh kemenangan beruntun di liga telah membuat mereka memimpin klasemen dengan keunggulan tiga poin.
Satu-satunya kekalahan kompetitif City di era Maresca terjadi saat menghadapi Paris Saint-Germain di ajang Liga Champions. Kekalahan itu menjadi satu-satunya noda pada catatan yang selebihnya hampir sempurna, sekaligus pengingat bahwa kompetisi Eropa tetap menjadi ujian tersendiri bagi skuad ini.
Kabar baik lainnya datang dari kondisi Erling Haaland, yang dinyatakan siap tampil setelah hanya duduk di bangku cadangan saat City mengalahkan AEK Athens di Liga Champions pada Rabu. Maresca juga masih menunggu kepastian mengenai ketersediaan Matheus Nunes, Mateo Kovacic, dan Nico O’Reilly, yang absen pada laga melawan AEK tersebut. “Suasana hatinya bagus, kami senang dengan awal kami, tetapi kami masih lapar akan kemenangan-kemenangan berikutnya,” ujar Maresca.
Dampak Lebih Luas bagi City dan Foden
Bila Foden mampu mempertahankan konsistensinya, City akan memiliki opsi serangan yang jauh lebih berbahaya karena ancaman bisa datang dari berbagai sisi. Hal ini penting mengingat jadwal musim yang padat menuntut rotasi, dan tidak mungkin mengandalkan satu atau dua pemain saja sepanjang musim. Kembalinya Foden ke bentuk terbaik memberi Maresca keleluasaan meracik komposisi tanpa menurunkan kualitas permainan.
Bagi Foden sendiri, dua pertandingan produktif ini berpotensi menjadi titik balik kariernya. Status sebagai pemain terbaik PFA musim 2023-24 menempatkan ekspektasi yang tinggi di pundaknya, dan membuktikan bahwa ia masih layak berada di level itu akan memperkuat posisinya di skuad. Namun, sejarah menunjukkan bahwa kebangkitan pemain kreatif selalu bergantung pada kesinambungan, bukan pada ledakan sesaat.
Yang dilakukan Maresca juga mencerminkan tren kepelatihan yang semakin menekankan komunikasi personal. Pelatih tidak lagi cukup hanya menyusun strategi; ia dituntut memahami latar belakang psikologis pemain dan mengetahui kapan harus memuji serta kapan harus menuntut. Bila pendekatan ini berhasil pada Foden, City akan menuai hasilnya sepanjang musim.
Kesimpulan
Kebangkitan performa Phil Foden tidak terjadi begitu saja. Pembicaraan personal yang dilakukan Maresca sejak awal musim menjadi fondasi kepercayaan diri sang pemain, yang kemudian berbuah empat gol dalam dua pertandingan terakhir. Dukungan itu dibarengi tuntutan untuk tetap konsisten di tengah persaingan ketat di lini serang City.
Dengan tujuh kemenangan beruntun di Premier League dan keunggulan tiga poin di puncak klasemen, City menuju laga melawan Aston Villa dalam kondisi percaya diri. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Foden bisa kembali bersinar, melainkan seberapa lama ia mampu mempertahankan level itu di sepanjang musim yang masih panjang.
