Celtic Juara Tennent’s Sixes Usai Balas Dendam ke Rangers

Celtic berhasil membalas kekalahan telak dari Rangers dengan cara yang paling manis: menjuarai Tennent’s Sixes. Pada laga final yang digelar di Braehead Arena, Minggu malam, Celtic menang 5-4 atas rival sekota mereka. Kemenangan itu terasa istimewa karena sehari sebelumnya, di fase grup pada Sabtu, mereka dihantam Rangers dengan skor 7-1.

Turnamen ini sebenarnya bukan ajang antartim utama. SPFL menghidupkan kembali Tennent’s Sixes sebagai kompetisi bagi para pemain yang sudah pensiun, mewakili seluruh 12 klub Premiership Skotlandia. Meski demikian, atmosfer yang muncul di lapangan maupun di luar lapangan nyaris tidak berbeda dengan final trofi besar, lengkap dengan tensi tinggi khas rivalitas Glasgow antara Celtic dan Rangers.

Final Ketat dan Pembalasan atas Kekalahan 7-1

Selisih satu gol di akhir pertandingan menunjukkan betapa ketatnya final Tennent’s Sixes kali ini. Celtic dan Rangers saling bergantian menekan, dan skor 5-4 membuat laga harus dituntaskan sampai peluit panjang. Bagi Celtic, hasil ini menjadi jawaban langsung atas kekalahan memalukan di fase grup yang terjadi hanya sehari sebelumnya.

Yang menarik, kekalahan 7-1 pada Sabtu justru tidak membuat Rangers tampil percaya diri di final. Sebaliknya, Celtic yang tampak lebih siap secara mental mampu mengubah momentum. Pola seperti ini sering terjadi dalam turnamen format singkat: hasil di fase grup tidak selalu menentukan siapa yang keluar sebagai juara.

Sejarah Tennent’s Sixes dan Format Barunya

Nama Tennent’s Sixes bukan hal baru dalam sepak bola Skotlandia. Turnamen ini pertama kali digelar pada periode 1984 hingga 1993 dan saat itu diikuti oleh tim utama dari berbagai klub. SPFL kemudian memutuskan untuk menghidupkan kembali kompetisi tersebut, tetapi dengan konsep yang berbeda, yakni menampilkan para pemain yang telah gantung sepatu.

Pada edisi kebangkitan ini, seluruh 12 klub Premiership mengirimkan perwakilan legenda mereka. Artinya, penonton bisa kembali melihat nama-nama yang dulu akrab di liga Skotlandia bertarung di lapangan. Format yang lebih pendek dan santai tidak lantas menghilangkan unsur kompetitif, terutama ketika Celtic dan Rangers bertemu di partai puncak.

Braehead Arena menjadi saksi bagaimana pertandingan yang berlabel eksibisi bisa berubah menjadi duel penuh emosi. Rivalitas Old Firm memang dikenal sebagai salah satu yang paling panas di dunia sepak bola. Ketika kedua nama itu bertemu, label “pertandingan pensiunan” seolah kehilangan maknanya.

Mulgrew Mengaku Terbawa Emosi dan Kehilangan Kontrol

Charlie Mulgrew, pemain Celtic berusia 40 tahun, mengakui bahwa dirinya terlalu terbawa suasana di akhir pertandingan. Ia mengabaikan uluran tangan kapten Rangers, Andy Halliday, dan memilih menghampiri tribun untuk menyapa para pendukung. Ia juga terlibat adu mulut dengan manajer Rangers, Barry Ferguson.

Kepada Premier Sports, Mulgrew mengakui besarnya adrenalin yang mengalir sepanjang laga. “Banyak adrenalin yang mengalir, beberapa tekel yang keras. Saya tahu ini cuma Tennent’s Sixes, tapi Anda tetap terbawa suasana,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kekalahan 7-1 dari Rangers sehari sebelumnya sangat menyakitkan karena Rangers adalah rival terdekat mereka.

Mulgrew bercerita bahwa kekalahan itu langsung dibahas oleh timnya pada malam harinya, diselingi beberapa gelas bir dan obrolan ringan. Menurutnya, pertemuan informal itu membantu timnya membenahi sejumlah hal sebelum turun di final. “Walaupun paginya saya agak kurang enak badan,” katanya sambil bercanda.

Ia bahkan menyebut kemenangan ini terasa seperti memenangi trofi sungguhan. Mulgrew mengaku sempat dilewati Martyn Waghorn dengan nutmeg beberapa kali dan sempat bertukar kata dengannya. “Saya sedang panas dan melakukan beberapa tekel keras. Pada akhirnya, karena kami punya semangat itu, kami menang,” tutupnya.

Suasana Panas di Ruang Ganti Rangers

Emosi tidak hanya meluap di sisi Celtic. Di ruang ganti Rangers, analisis pascapartai berlangsung panas. Sebuah video yang bocor ke media sosial memperlihatkan Kirk Broadfoot tampak mengkritik keras kiper Lee Robinson. Bocornya rekaman internal seperti ini biasanya menambah keruh suasana setelah kekalahan.

Insiden tersebut memperlihatkan bahwa turnamen legenda tetap bisa memicu perselisihan serius di dalam tim. Tekanan untuk menang melawan rival sekota tidak hilang hanya karena para pemain sudah tidak lagi berstatus profesional aktif. Justru karena nama besar mereka, kekalahan terasa lebih menyakitkan.

Reaksi Kubu Celtic: Marah Dulu, Lalu Seperti Juara Liga

Manajer Celtic, Tom Boyd, mengaku “cukup marah” kepada para pemainnya setelah kekalahan 7-1 pada Sabtu malam. Setelah timnya bangkit dan menjuarai Tennent’s Sixes, ia menggambarkan perasaannya saat ini “seperti memenangi liga”. Pernyataan itu menunjukkan betapa besar arti pertandingan ini bagi mereka.

Asisten pelatih Simon Donnelly mengakui seluruh tim merasa “malu” dengan kekalahan telak sehari sebelumnya. Ia menyampaikan hal itu kepada Celtic Player setelah final usai. Menurut Donnelly, laga melawan Rangers selalu terasa seperti final Piala Skotlandia, terlepas dari kompetisi apa yang sedang dimainkan.

Ia bahkan menyindir bahwa pertandingan melawan Rangers bisa dilakukan dalam permainan sepele apa pun dan rasa ingin menangnya akan tetap sama besar. Dunia sepak bola sering memakai ungkapan seperti ini untuk menggambarkan rivalitas yang melampaui konteks turnamen. Hanya tim yang benar-benar hidup dalam rivalitas itu yang bisa merasakannya.

Apa Arti Hasil Ini bagi Rivalitas Old Firm

Kasus Tennent’s Sixes memperlihatkan bahwa rivalitas Celtic dan Rangers tidak berhenti ketika para pemainnya pensiun. Emosi, tekanan, dan keinginan mengalahkan rival tetap terbawa ke lapangan, bahkan dalam format turnamen yang jauh lebih santai. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa konsep menghidupkan kembali turnamen legenda punya daya tarik tersendiri bagi penonton.

Bagi SPFL, antusiasme yang muncul bisa menjadi sinyal bahwa format serupa layak dilanjutkan. Kehadiran nama-nama lama memberikan nilai nostalgia yang sulit ditandingi oleh pertandingan biasa. Di sisi lain, insiden adu mulut dan analisis panas di ruang ganti menunjukkan bahwa pengelolaan emosi tetap menjadi tantangan.

Yang jelas, bagi para pendukung, laga ini menawarkan hiburan yang lengkap: drama, balas dendam, dan akhir yang dramatis. Kombinasi itu menjelaskan mengapa Tennent’s Sixes kembali menjadi perbincangan hangat setelah sekian lama absen.

Penutup

Kemenangan 5-4 Celtic atas Rangers di final Tennent’s Sixes menutup turnamen legenda dengan cara paling dramatis. Setelah dihancurkan 7-1 di fase grup, Celtic mampu membalikkan keadaan dan merebut gelar di Braehead Arena. Emosi yang meluap, mulai dari Mulgrew yang mengabaikan jabat tangan hingga ketegangan di ruang ganti Rangers, menegaskan bahwa rivalitas Glasgow tidak pernah benar-benar padam.

Bagi para penggemar, ajang ini menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan sekadar soal trofi, melainkan juga soal gengsi dan kebanggaan. Selama Celtic dan Rangers masih bertemu di lapangan, siapa pun pemainnya, pertandingan akan selalu terasa besar.