Bilic Kembali Duduk di Kursi Pelatih Kroasia
Slaven Bilic kembali dipercaya menangani tim nasional Kroasia untuk periode kedua, dan langsung bersiap menghadapi Inggris di Rijeka pada laga Nations League hari Sabtu. Kepulangan ini terasa istimewa karena masa jabatan pertamanya berakhir 14 tahun lalu, sementara sembilan tahun silam ia sendiri pernah berkata tidak percaya pada istilah comeback. Kini Bilic berusia 58 tahun dan dianggap sebagai sosok paling tepat untuk melanjutkan tongkat estafet dari Zlatko Dalic.
Jeda antara dua periode itu bukan waktu yang singkat. Bilic sempat melatih di Saudi Pro League dan Chinese Super League, lalu menukangi West Brom dan Watford. Setelah itu ia menganggur selama 23 bulan sejak Agustus 2024, sebelum akhirnya menerima tawaran kembali ke Kroasia.
Jejak Panjang Sebelum Kembali ke Timnas
Sembilan tahun lalu, Bilic duduk di lobi sebuah hotel di Canary Wharf, London, mengenakan kaus hitam Soundgarden dan denim gelap. Dalam wawancara langka untuk media Kroasia, ia dengan santai melompat dari satu topik ke topik lain, mulai dari autobiografi Sir Alex Ferguson, epik sinematografi Yugoslavia, hingga selibat Nikola Tesla. Ia juga sempat membahas konser Metallica dan steak di sebuah restoran Argentina, tepat sebelum menjalani musim ketiganya di Premier League bersama West Ham.
Saat itu Bilic merasa hidupnya sedang nyaman dan jauh dari hiruk-pikuk sepak bola Kroasia. “Saya punya kenangan indah dan tidak ingin merusaknya,” ujarnya kala itu. “Saya tidak suka kembali. Bukan karena takut gagal, hanya perasaan bahwa sesuatu sudah selesai.” Kalimat itulah yang kini terasa ironis, sebab ia justru memilih pulang.
Penampilan publik pertamanya setelah kembali pada Juli lalu disambut seperti udara segar yang masuk ke ruangan pengap. Bilic memang dikenal lugas, pandai berbicara, dan penuh gairah. Karakternya itu sangat kontras dengan pendahulunya, Zlatko Dalic, yang lebih menahan diri, rendah hati, dan nyaris seperti seorang pendeta.
Usia ternyata menambah kesan elegan pada penampilannya. Gaya Bilic kini seperti kolase penghormatan pada pelatih-pelatih besar masa kini: jenggot garam dan merica ala Klopp atau Guardiola, kacamata bertali seperti Bielsa, serta pakaian serba hitam bergaya Simeone. Kombinasi itu membuat sosoknya terasa akrab sekaligus baru. Meski begitu, ia tetap dirinya sendiri, dan itulah yang membuat kehadirannya selalu menarik perhatian.
Warisan Dalic dan Fondasi yang Ditanam Bilic
Menggantikan Dalic bukan pekerjaan mudah bagi pelatih mana pun. Dalic mencatat sejarah bersama Kroasia dengan membawa timnya finis di posisi kedua dan ketiga Piala Dunia dalam dua edisi berbeda. Namun Bilic selalu dipandang sebagai pilihan terbaik, bukan hanya karena ia paham betul apa yang sedang dihadapi tim ini.
Ada keyakinan yang mengakar bahwa Bilic-lah yang meletakkan fondasi bagi kesuksesan tersebut. Ia dianggap mulai menanam benih yang kemudian berbunga menjadi tim milik Luka Modric dan Dalic. Kroasia pun kembali bermimpi besar untuk pertama kalinya sejak generasi 1998, ketika Bilic masih berstatus pemain.
Salah satu tonggak pentingnya adalah kemenangan 3-2 di Wembley pada 2007. Kala itu Kroasia menang bukan karena keharusan, melainkan karena mereka mampu dan benar-benar yakin pada kekuatan sendiri. Semangat itulah yang kini ingin ia bangkitkan kembali di ruang ganti.
Gaya Bermain Baru yang Diinginkan Bilic
Di bawah Dalic, Kroasia sering memilih menunggu dan menikmati peran sebagai tim underdog. Mereka mematikan dalam serangan balik, meski tidak punya banyak pemain cepat dan kekuatan utama justru terletak di lini tengah kreatif. Bilic ingin mengubah pendekatan itu menjadi jauh lebih agresif.
Ia menginginkan para pemainnya menekan tinggi, mengambil lebih banyak risiko, dan mengirim lebih banyak orang masuk ke kotak penalti lawan. Bek tengah pun diminta naik membawa bola, bukan sekadar menunggu Modric atau Mateo Kovacic turun ke tepi kotak untuk menerima bola. Singkatnya, Bilic ingin timnya bermain berani, menyerang, dan sepenuh gairah seperti dirinya.
Pertanyaannya, mampukah ia menerapkan itu pada skuad yang masih didominasi pemain senior seperti Modric, Kovacic, dan Ivan Perisic, meski sudah mendapat banyak darah segar selama bertahun-tahun. Ia percaya pengalaman dan pendekatan barunya cukup untuk meramu skuad yang ada. Bilic sendiri yakin bisa.
Modric dan Ujian Sesungguhnya di Nations League
Bilic mungkin juga satu-satunya sosok yang mampu meyakinkan Modric untuk bertahan sedikit lebih lama. Gelandang veteran berusia 41 tahun itu mencetak gol pertama di era kedua Bilic dalam kemenangan 2-1 di Praha atas Ceko pada Sabtu lalu, lalu langsung berlari memeluk sang pelatih. “Luka adalah segalanya bagi kami, dia luar biasa,” kata Bilic.
Dari sisi pekerjaannya sebagai pelatih, Bilic masih harus membuktikan diri sekali lagi. Ia diyakini bukan lagi sosok yang sama seperti pada periode pertamanya, dan bagaimana ia menerapkan pengalaman barunya masih menjadi tanda tanya. Dua laga memang terlalu dini untuk menilai, terutama karena laga kedua berakhir kekalahan 4-1 di kandang Spanyol yang jauh lebih unggul, ketika ia melakukan banyak rotasi.
Meski demikian, sudah ada petunjuk soal arah permainan yang ia inginkan. Ekspektasi pun tinggi, terutama karena Bilic pernah percaya Kroasia bisa menjuarai Euro 2012, meski kenyataannya mereka tersingkir di fase grup. Kini ia menyatakan mampu menyamai kesuksesan Dalic, dan pernyataan itu jelas menuntut pembuktian.
Kembalinya Bilic juga menjadi bagian dari konteks yang lebih luas soal regenerasi Kroasia. Tim ini sedang berusaha menyeimbangkan kehadiran pemain senior berpengalaman dengan kebutuhan penyegaran skuad. Nations League pun menjadi panggung pertama untuk melihat seberapa jauh gagasan barunya bisa diterapkan.
Menanti Pembuktian Bilic
Kembalinya Bilic ke Kroasia adalah cerita tentang keyakinan yang lebih besar daripada sekadar istilah comeback. Ia pernah berkata tidak percaya pada kepulangan, tetapi pada saat yang sama selalu memegang iman pada hal-hal besar. Kini ia membawa pengalaman dari berbagai liga dan negara untuk mencoba mengulang, atau bahkan melampaui, apa yang pernah ia raih.
Duel melawan Inggris di Rijeka akan menjadi ujian awal yang sesungguhnya. Jika gagasan pressing tinggi dan permainan menyerangnya mulai terlihat, publik Kroasia punya alasan untuk kembali bermimpi. Sebaliknya, jika hasilnya kurang memuaskan, pertanyaan soal regenerasi dan warisan Dalic akan kembali mencuat.
