Borussia Dortmund kembali menduduki puncak klasemen Bundesliga setelah menutup pekan keempat dengan kemenangan tipis 1-0 di markas VfB Stuttgart. Empat pertandingan telah dilalui, dan empat kemenangan sudah dikumpulkan anak asuh Niko Kovac. Hasil di Stuttgart membuat Dortmund mengoleksi 12 poin, unggul dua angka atas Bayern Munich dan Freiburg yang sama-sama mengumpulkan 10 poin.
Posisi ini terasa istimewa karena terakhir kali Dortmund memimpin Bundesliga adalah pada Mei 2023, tepat sebelum mimpi juara mereka runtuh di penghujung musim. Ketika itu, kaus hitam-kuning bertuliskan “Deutscher Meister” sudah dijual di sekitar Signal Iduna Park dan bir dingin telah disiapkan untuk perayaan yang tak pernah terjadi. Kini, laga di Stuttgart menjadi penanda bahwa cerita itu bukan lagi catatan terakhir Dortmund di singgasana klasemen.
Kemenangan Tipis di Stuttgart dan Jejak Tangan Niko Kovac
Laga Sabtu malam di Stuttgart membawa bobot layaknya sebuah Topspiel, meski dari sisi hiburan pertandingan ini tidak terlalu memikat. Kovac meninggalkan jejaknya di hampir setiap momen: Dortmund tampil sabar, tenang, dan cukup disiplin secara defensif untuk menggiling laga sampai selesai. Sampai menjelang akhir, tim tamu bahkan belum melepas satu pun tembakan tepat sasaran.
Gol kemenangan baru datang ketika Maximilian Beier menyontek bola masuk memanfaatkan umpan menggoda dari Jobe Bellingham yang turun sebagai pemain pengganti. Setelah itu, Dortmund meredam semua upaya tuan rumah dengan cerdik dan tanpa banyak keributan. Penampilan seperti ini membuat lini serang Stuttgart yang biasanya rapi terlihat biasa saja.
Pelatih Stuttgart, Sebastian Hoeness, mengakui kualitas lawannya dengan sindiran halus kepada timnya sendiri. “Dalam laga puncak, cukup dan lumayan saja tidak cukup,” ujarnya seusai pertandingan. Pernyataan itu sekaligus menggambarkan betapa efektifnya pendekatan Kovac dalam menghadapi tim-tim besar.
Luka 2023 dan Perjalanan Panjang di Bawah Kovac
Rekam jejak Dortmund melawan Stuttgart menjadi cermin kemajuan mereka. Musim lalu, Dortmund hanya mengumpulkan empat poin dari dua pertemuan dengan tim asuhan Hoeness itu, dan itu pun tanpa penampilan yang benar-benar meyakinkan. Sebelumnya, pada musim 2024-25, keadaan jauh lebih buruk karena BVB dikalahkan dua kali oleh Stuttgart.
Kekalahan pertama terjadi di masa singkat kepemimpinan Nuri Sahin, sedangkan kekalahan kedua terjadi pada laga debut Kovac sebagai pelatih. Momen itu memberi gambaran jelas bahwa tugas yang menantinya di Dortmund jauh dari ringan. Sejak itu, ia perlahan membangun ulang cara tim bermain dan menancapkan idenya di ruang ganti.
Perdebatan soal apakah gaya bermain Kovac cocok dengan citra Dortmund yang identik dengan sepak bola menyerang memang akan terus berlanjut. Namun, kemenangan di Stuttgart menunjukkan sisi lain yang tak kalah penting: kemampuan bertahan dengan rapi dan menuntaskan pertandingan ketat. Dortmund tidak akan kembali relevan dengan mencoba menghidupkan era Jürgen Klopp atau meniru Bayern Munich, sebab dua pendekatan itu sudah pernah dicoba.
Implikasi: Mengejar Bayern dan Membangun Konsistensi
Pada akhir musim lalu, Dortmund masih tertinggal 16 poin dari Bayern Munich. Jarak itu terlalu besar untuk ditutup dalam sekejap, sehingga target yang lebih realistis adalah mempersempitnya secara bertahap. Direktur pelatih Dortmund, Lars Ricken, mengungkapkan target sederhananya seusai kemenangan di Stuttgart.
“Ini soal membuat Bayern sedikit terganggu,” katanya. Pernyataan itu menunjukkan bahwa Dortmund tidak sedang membicarakan gelar secara terbuka, melainkan membangun tekanan agar Bayern tak bisa berlari sendirian di puncak. Untuk sekadar disebut sebagai penantang gelar, pencapaian Dortmund sejauh ini agaknya masih terlalu dini untuk dijadikan dasar.
Gol Beier dan kontribusi Bellingham juga punya makna tersendiri. Bellingham kerap dikritik karena dianggap tidak sehebat sang kakak yang berbakat generasional, sementara Beier sering dianggap sekadar pemain yang kurang dihargai. Keduanya didatangkan dengan harga mahal, sehingga kesabaran publik terhadap mereka cenderung tipis. Kemampuan beradaptasi mereka justru menonjol: Bellingham memberi dampak dari bangku cadangan, sedangkan Beier berkembang di peran yang lebih maju.
Keduanya merupakan tipe pemain yang disukai Kovac, yaitu muda, mau bekerja keras, atletis, dan mudah menyesuaikan diri. Kombinasi itu sejalan dengan cara Kovac meracik tim, yang lebih mengutamakan keseimbangan dan ketahanan ketimbang gaya menyerang total. Untuk kembali merasakan sakit sekaligus potensi hadiah seperti pada 2023, Dortmund masih butuh waktu, dan sebagian bergantung pada apakah Bayern benar-benar tergelincir satu tingkat.
Harry Kane Tembus 100 Gol, Bayern Pesta Tujuh Gol
Harry Kane mencetak gol Bundesliga ke-100 dalam penampilan ke-98, sebuah rekor tercepat dalam sejarah kompetisi. Pencapaian itu datang di laga melawan Union Berlin, tim yang sedang menjalani awal musim buruk. Dua gol Kane nyaris hanya menjadi catatan kaki pada malam ketika Michael Olise mencetak hat-trick gemilang dalam kemenangan 7-0.
Jamal Musiala dan Ismaël Saibari juga mencetak gol liga pertama mereka musim ini. Hasil itu menjadi pembuka yang menyenangkan bagi perayaan akhir pekan Oktoberfest yang menjadi tradisi klub. Namun, Bayern juga tengah berduka setelah meninggalnya Peter Hermann pada Sabtu di usia 73 tahun.
Hermann dikenal sebagai asisten Jupp Heynckes pada musim treble 2013 dan menjadi figur yang dihormati di klub. Ia juga dikenang secara emosional di Leverkusen sebelum pertandingan dimulai pada Minggu, karena pernah memperkuat tim promosi mereka pada 1979 dan menjadi asisten Klaus Toppmöller saat klub itu mencapai final Liga Champions 2002.
Leverkusen Menang, Gladbach Terpuruk di Dasar Klasemen
Leverkusen memberi penghormatan yang pantas bagi Hermann lewat kemenangan 2-0 atas RB Leipzig. Christopher Nkunku sempat mencetak gol untuk tim tamu, tetapi dianulir. Patrik Schick membawa tuan rumah unggul setelah memanfaatkan umpan Miguel Gutiérrez, lalu Gutiérrez yang menjadi pengganti nominasi untuk Álex Grimaldo itu menutup laga dengan golnya sendiri.
Pelatih Leverkusen, Carles Martínez, memuji timnya karena mampu menjaga “keseimbangan yang baik antara mempertahankan bola dan bermain ke depan”. Sebaliknya, Martín Demichelis di Leipzig punya banyak hal untuk dipikirkan setelah kekalahan tandang keempat berturut-turut.
Sementara itu, Borussia Mönchengladbach terus menemukan cara untuk terpuruk. Belum pernah ada tim yang mencetak tiga gol dalam dua laga kandang Bundesliga secara beruntun lalu kalah di keduanya, dan Gladbach tampaknya sedang mencetak rekor kelam itu. Mereka memulai pertandingan melawan Mainz dengan cerah, bahkan Florian Neuhaus mencetak gol pembuka pada laga kembalinya ke starting line-up, gol pertamanya sejak Mei 2024. Hasil akhirnya tetap kekalahan lagi, membuat mereka terpuruk di dasar klasemen tanpa satu pun poin.
Alexander Blessin, mantan pelatih St Pauli yang dikenal karena kerja defensifnya, diperkirakan datang untuk menambal kebocoran di lini belakang Gladbach. Mainz sendiri saat ini ditangani pelatih interim Jan-Moritz Lichte.
Comeback Bremen, Hamburg Akhirnya Menang, Paderborn Kejutkan Hoffenheim
Werder Bremen melanjutkan awal musim yang mengejutkan dengan comeback dramatis melawan Augsburg. Setelah tertinggal 2-0, mereka menyamakan kedudukan melalui tendangan keras Niclas Füllkrug. Puncaknya datang dari Mitchell Weiser, yang melepas tendangan kaki kiri sempurna jauh di masa tambahan waktu pada penampilan kandang pertamanya setelah 16 bulan absen karena cedera.
Gol itu membuat mantan pemain Bayern tersebut meneteskan air mata, dan pelatih Daniel Thoune menyebutnya sebagai “momen yang membuat bulu kuduk berdiri”. Kisah itu menjadi salah satu momen paling emosional di pekan keempat.
Hamburg masuk ke pekan keempat tanpa poin dan tanpa gol, tetapi berhasil melewati Köln yang sebenarnya lebih mendominasi pertandingan. Gol kedua Yussuf Poulsen untuk klub sejak kedatangannya pada musim panas 2025 menjadi penentu. Hasil itu sekaligus membenarkan kepercayaan klub kepada pelatih Merlin Polzin, yang pekan ini menandatangani perpanjangan kontrak meski memulai musim dengan buruk dan menelan dua kekalahan 5-0 berturut-turut.
Ketiga tim promosi kini sama-sama punya kemenangan setelah Paderborn mengejutkan Hoffenheim pada laga larut Minggu. Pemain veteran pengganti, Steffen Tigges, memastikan kemenangan lewat sundulan, gol pertamanya di kasta tertinggi sejak 2024. Hoffenheim menelan kekalahan ketiga dalam empat laga, setelah sebelumnya juga dipermalukan OFI Crete di Liga Europa pada Kamis.
Peta Kekuatan Sementara di Puncak dan Dasar Klasemen
Setelah empat pekan, Dortmund memimpin dengan 12 poin dan selisih gol tujuh. Bayern Munich dan Freiburg menguntit dengan 10 poin, meski Bayern punya selisih gol jauh lebih besar, yaitu 12. Augsburg dan Bayer Leverkusen menyusul di posisi berikutnya dengan tujuh poin.
Di dasar klasemen, Gladbach menjadi satu-satunya tim yang belum mengumpulkan poin sama sekali. Union Berlin baru meraih satu poin dengan selisih gol minus 13, sementara Hamburg mengoleksi tiga poin tetapi memiliki selisih gol minus 11. Stuttgart, yang baru saja kalah dari Dortmund, tertahan di posisi 15 dengan tiga poin.
Peta ini menunjukkan bahwa kompetisi musim ini masih sangat terbuka, terutama karena belum ada tim yang benar-benar melaju tanpa cela. Dortmund memilih jalan yang lebih lambat namun tertata, sementara Bayern tetap menjadi patokan yang harus dikejar.
Kemenangan di Stuttgart bukan sekadar tambahan tiga poin, melainkan bukti bahwa Dortmund mampu bertahan dalam laga ketat yang biasanya menjadi titik lemah mereka. Jika konsistensi ini bisa dijaga, jarak 16 poin dari Bayern musim lalu bukan hal yang mustahil untuk dipangkas. Yang jelas, Dortmund sedang memanjat tangga yang benar, perlahan tapi penuh perhitungan.
