Chelsea resmi memasuki babak baru dalam kepemilikan Amerika Chelsea. Todd Boehly dan Mark Walter, dua pemegang saham minoritas asal Amerika Serikat, sepakat menjual 12,8% saham mereka kepada Clearlake Capital. Langkah ini menutup empat tahun Boehly sebagai ketua klub, meski pengaruhnya belakangan sudah menyusut. Dengan demikian, kendali atas Chelsea kini sepenuhnya berada di tangan Clearlake.
Kepergian Boehly dan Walter penting karena menandai tahap akhir dari model kepemilikan Amerika yang kini melanda sebagian besar Premier League. Sejak Clearlake mengambil alih klub pada Mei 2022 dari Roman Abramovich, Chelsea telah melalui masa penuh gejolak. Klub yang sempat juara Premier League pada 2015 dan 2017 serta Liga Champions pada 2021 itu finis di peringkat 12, enam, empat, dan 10 dalam empat musim. Meski prestasi di lapangan jauh dari harapan, Boehly dan Walter disebut keluar dengan profit. Inilah contoh bagaimana kepemilikan Amerika Chelsea lebih mengutamakan nilai aset ketimbang kesuksesan olahraga.
Fakta Utama: Boehly dan Walter Tinggalkan Chelsea
Boehly dan Walter menjual saham masing-masing 12,8% kepada Clearlake Capital pekan lalu. Boehly menghabiskan empat tahun sebagai ketua Chelsea, meski belakangan pengaruhnya menurun. Walter, rekan senegaranya yang juga pemegang saham minoritas, ikut angkat kaki. Keduanya adalah bagian dari kelompok takeover Clearlake yang membeli klub dengan valuasi $3,3 miliar (£2,5 miliar) dan kini menjual dengan valuasi $6,7 miliar (£5 miliar). Nilai klub disebut berlipat ganda setelah empat tahun yang penuh kekacauan.
Financial Times melaporkan bahwa pemilik yang keluar memperoleh “profit moderat”. Profit itu kemungkinan berasal dari investasi $2,3 miliar (£1,75 miliar) yang dikomitmenkan Boehly, Walter, dan pemilik baru lainnya saat mengambil alih klub. Namun, yang lebih penting dari angka pastinya adalah kenyataan bahwa mereka bisa keluar dengan uang lebih banyak daripada yang mereka tanamkan. Ini menunjukkan bagaimana kepemilikan Amerika Chelsea bekerja: nilai aset naik seiring waktu, terlepas dari performa tim di lapangan.
Selama era ini, Chelsea menghabiskan sekitar $2,37 miliar (£1,78 miliar) untuk 60 pemain baru, menurut Transfermarkt. Sumber yang sama menilai tim utama Chelsea saat ini hanya $1,23 miliar (£920 juta). Artinya, klub membelanjakan hampir dua kali lipat dari nilai portofolio pemainnya sekarang. Pembelian itu termasuk Mykhailo Mudryk, yang disebut sebagai salah satu pembelian gagal terbesar Premier League, dan Raheem Sterling, yang kontraknya disebut salah satu yang terburuk. Chelsea juga mencetak rekor baru Premier League untuk kerugian terbesar sebelum pajak.
Selain itu, klub menjual tim wanitanya ke dirinya sendiri sebagai bagian dari manuver akuntansi agar tetap berada di sisi yang benar dari regulasi keuangan. Langkah ini menuai kontroversi karena dianggap sebagai trik pembukuan. Semua ini terjadi di bawah kepemimpinan yang terus berganti: setelah Thomas Tuchel dipecat, lima pelatih permanen dan empat pelatih interim dipasang. Klub juga mempekerjakan lima direktur olahraga. Ketidakstabilan di kursi pelatih dan manajemen menjadi ciri khas era ini.
Kronologi Era Clearlake: Belanja Besar, Prestasi Menurun
Clearlake Capital resmi mengambil alih Chelsea pada Mei 2022 dari Roman Abramovich, oligark Rusia yang dikenai sanksi. Todd Boehly ditunjuk menangani operasi harian klub. Saat itu, Chelsea baru saja menjuarai Liga Champions 2021 dan masih dianggap sebagai kekuatan utama Inggris. Harapannya, kepemilikan baru akan membawa stabilitas dan investasi besar. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Thomas Tuchel, pelatih yang membawa Chelsea juara Liga Champions, dipecat tak lama setelah takeover. Sejak itu, kursi pelatih menjadi tempat yang tidak stabil. Lima pelatih permanen dan empat interim silih berganti. Klub juga memiliki lima direktur olahraga, jumlah yang tidak biasa dan menunjukkan tumpang tindih tanggung jawab. Ketidakjelasan struktur ini membuat Chelsea sulit membangun tim yang solid.
Di lapangan, hasilnya mengecewakan. Chelsea finis di peringkat 12 pada musim 2022-2023, lalu keenam, keempat, dan ke-10. Padahal, klub dengan sumber daya sebesar Chelsea seharusnya minimal lolos ke kompetisi Eropa di dua dari empat musim. Chelsea gagal memenuhi standar itu. Selain itu, rencana membangun stadion baru yang lebih besar juga tidak terealisasi, meski sempat digagas. Jadi, dari sisi prestasi, infrastruktur, dan stabilitas, era Clearlake awal belum membuahkan hasil yang diharapkan.
Kepemilikan Amerika Chelsea: Dampak bagi Klub dan Liga
Bagi Chelsea, kepergian Boehly dan Walter menandai berakhirnya fase awal kepemilikan Amerika. Clearlake Capital kini memegang kendali lebih besar. Pertanyaannya, apakah arah klub akan berubah? Selama ini, kritik utama adalah bahwa keputusan diambil berdasarkan nilai aset, bukan kebutuhan sepak bola. Penggemar melihat klub mereka sebagai komoditas yang diperjualbelikan, bukan institusi yang dijaga. Ini bisa memperlebar jarak antara pemilik dan suporter.
Di tingkat Premier League, fenomena ini bukan hal baru. Semakin banyak klub dimiliki oleh miliarder Amerika yang memperlakukan klub sebagai aset investasi. Mereka tidak menganggap diri sebagai pengurus klub dan tidak merasa memiliki ikatan dengan penggemar. Mereka hanya pemegang dokumen yang memberikan kendali finansial atas aset berharga. Dampaknya, keputusan penting lebih didorong oleh perhitungan bisnis ketimbang ambisi trofi.
Kompetisi pun terpengaruh. Klub-klub yang punya pemilik kaya bisa belanja besar, tetapi tidak menjamin sukses. Sebaliknya, klub yang dikelola dengan baik dan stabil bisa bersaing. Namun, ketika kepemilikan menjadi ajang jual-beli saham, fokus pada pembinaan dan identitas klub bisa tergerus. Penggemar mungkin tetap setia, tetapi mereka semakin sulit merasa memiliki klub. Ini menimbulkan pertanyaan tentang masa depan sepak bola Inggris yang semakin kapitalistis.
Konteks Lebih Luas: Tren Kepemilikan Amerika di Sepak Bola Inggris
Model kepemilikan Amerika Chelsea adalah bagian dari gelombang besar yang melanda Premier League. Semuanya dimulai ketika keluarga Glazer membeli Manchester United pada 2005 dengan uang pinjaman sebesar $1,47 miliar (£800 juta saat itu). Pada 2023, mereka menjual seperempat klub kepada Sir Jim Ratcliffe senilai sekitar $1,6 miliar (£1,3 miliar) dalam bentuk uang tunai dan investasi infrastruktur. Artinya, Glazer nyaris mengembalikan seluruh investasi awal mereka, meski sebagian besar utang masih ada di pembukuan klub. Mereka juga tetap memegang tiga perempat salah satu merek olahraga paling berharga di dunia.
Mark Walter sendiri pernah melakukan hal serupa. Ia membeli Los Angeles Lakers seharga $10 miliar dan menjualnya kembali $12,5 miliar hanya 14 bulan kemudian. Ia melikuidasi sebagian portofolio olahraganya yang luas di tengah penyelidikan federal atas dugaan penipuan. Pada musim panas ini, konsorsium yang mencakup pendiri Amazon, Jeff Bezos, membeli 30% saham Liverpool senilai $2,2 miliar (£1,65 miliar) dari Fenway Sports Group. FSG sebelumnya membeli Liverpool secara penuh seharga $464 juta (saat itu £300 juta) pada 2010. Itu berarti keuntungan sekitar 1.580%. Dalam konteks itu, harga Alexander Isak dan Bradley Barcola tidak terdengar terlalu mahal.
Pola ini sudah berlangsung puluhan tahun di Amerika Serikat. Sekarang, pola yang sama diterapkan di Inggris. Kepemilikan klub tidak lagi tentang membangun keunggulan olahraga atau mempererat hubungan dengan penggemar yang justru menjadi sumber nilai klub. Klub kini ada untuk memperkaya orang kaya. Tidak banyak yang bisa dilakukan pihak lain. Situasi ini memang menyedihkan. Boehly dan Walter hanyalah contoh terbaru dari fenomena yang lebih besar.
Apa yang Mungkin Terjadi Berikutnya?
Dengan Clearlake Capital memegang kendali penuh, Chelsea kemungkinan akan melanjutkan strategi belanja pemain muda yang diharapkan bisa dijual mahal. Namun, tekanan untuk meraih hasil di lapangan tetap besar. Penggemar menuntut perbaikan setelah beberapa musim mengecewakan. Jika prestasi tidak segera membaik, kritik terhadap model kepemilikan Amerika Chelsea akan semakin keras. Klub perlu menunjukkan bahwa mereka bisa bersaing, bukan hanya menaikkan nilai aset.
Di sisi lain, tren kepemilikan Amerika di Premier League tampaknya belum akan berhenti. Klub-klub lain bisa menyusul dengan pola serupa: dibeli, dioptimalkan, lalu dijual dengan keuntungan besar. Regulasi keuangan yang ketat mungkin membatasi belanja, tetapi tidak menghalangi transaksi saham. Penggemar mungkin hanya bisa berharap bahwa pemilik berikutnya lebih peduli pada sepak bola. Sayangnya, dalam model yang ada sekarang, kesetiaan pada klub bukan faktor utama. Yang utama adalah keuntungan.
Kepergian Todd Boehly dan Mark Walter dari Chelsea menjadi penanda penting. Kepemilikan Amerika Chelsea telah menunjukkan bahwa nilai aset bisa berlipat ganda meski prestasi tim menurun. Belanja besar, kerugian rekor, dan ketidakstabilan manajemen tidak menghalangi pemilik keluar dengan profit. Ini adalah wajah baru kapitalisme olahraga di mana klub diperlakukan seperti saham yang diperjualbelikan.
Bagi penggemar Chelsea dan Premier League secara umum, situasi ini meninggalkan rasa pahit. Klub yang mereka cintai semakin jauh dari sekadar urusan sepak bola. Namun, selama sistem tidak berubah, pola ini akan terus berulang. Mungkin satu-satunya harapan adalah kesadaran kolektif bahwa sepak bola seharusnya tetap menjadi permainan, bukan sekadar portofolio investasi.
