Sejumlah talking points WSL menarik muncul dari pekan kedua Women’s Super League. Sorotan terbesar tertuju pada Eva Olid, manajer baru Manchester United, yang menyaksikan timnya dibantai Chelsea 5-0 di Leigh Sports Village. Kekalahan itu memicu kekecewaan nyata di kalangan pendukung Setan Merah begitu laga usai.
Hasil tersebut menempatkan Olid di bawah tekanan hanya sekitar tiga pekan setelah ia mulai bekerja. Meski begitu, menilai ulang performa United hanya dari pertandingan melawan Chelsea yang sudah mapan asuhan Sonia Bompastor terasa terlalu dini. Pekan ini juga menyoroti masalah penyelesaian akhir Arsenal, kualitas West Ham, fleksibilitas Liverpool, serta ketajaman Manchester City sebagai juara bertahan.
Talking Points WSL: Eva Olid dan Manchester United di Tengah Badai
Peluang Manchester United merebut tiga poin sebenarnya tipis sejak awal. Chelsea memang bukan lawan yang bersahabat bagi United, yang tercatat tiga kali kalah dengan selisih lebih dari tiga gol di WSL, dan semuanya melawan Chelsea. Harapan semu sempat muncul setelah Chelsea hanya bermain imbang 1-1 dengan Aston Villa pada pekan sebelumnya, tetapi kenyataan di lapangan jauh berbeda.
Olid baru menangani tim ini selama kurang lebih tiga pekan dan langsung dihadapkan pada jadwal berat. Kekalahan dari London City Lionesses dan Chelsea menjadi pembaptisan keras baginya di kompetisi ini. Pada laga berikutnya, United sudah ditunggu Arsenal, yang semakin menambah berat ujian awal pelatih asal Spanyol itu.
Meski hasil belum berpihak, Olid menegaskan bahwa ia tidak akan mengubah pendekatannya. “Ini pertandingan-pertandingan sulit untuk membangun kepercayaan diri di lini serang, tetapi saya di sini untuk membangun identitas dan saya harus setia pada itu,” ujarnya. Pernyataan tersebut menunjukkan ia memilih berpegang pada proses ketimbang mengejar hasil instan.
Arsenal Kembali Kehilangan Sentuhan Finishing
Ada rasa deja vu yang kuat di Emirates Stadium ketika Arsenal bermain imbang 0-0 dengan Crystal Palace. Masalah awal musim yang seolah berulang kembali membuat The Gunners frustrasi menghadapi tim tamu yang bertahan dengan disiplin. Arsenal mendominasi hampir semua aspek menyerang, tetapi kembali gagal memaksimalkan peluang.
Data pertandingan memperlihatkan betapa dominannya Arsenal: 79 persen penguasaan bola, 30 tembakan dengan sembilan di antaranya mengarah ke gawang, serta 70 sentuhan di area pertahanan Palace. Mereka juga dua kali membentur mistar gawang dan membuang sejumlah peluang emas. Kiper Palace, Pauline Peyraud-Magnin, menjadi tembok dengan delapan penyelamatan gemilang.
Pelatih kepala Arsenal, Renée Slegers, mengakui bahwa persoalan utamanya bukan terletak pada permainan, melainkan pada penyelesaian. “Ya, ada hal-hal baik, tetapi yang penting adalah mencetak gol,” katanya. Kegagalan serupa pernah menghantui Arsenal musim lalu, ketika enam hasil imbang menggagalkan upaya mereka meraih gelar, dan masalah itu harus segera diperbaiki bila ingin kembali bersaing musim ini.
West Ham Perlihatkan Kualitas, London City Terhenti
Setelah sebelumnya mengalahkan Manchester United, London City Lionesses dipaksa kembali ke bumi oleh West Ham yang tampil mengesankan. Kekalahan tersebut menjadi yang pertama bagi tim asuhan Eder Maestre musim ini. West Ham tidak hanya meraih kemenangan perdana, tetapi juga menunjukkan kualitas permainan yang menarik perhatian.
Jika hanya melihat statistik, orang mungkin menyangka tim tamu mendominasi, namun di Dagenham kenyataannya sama sekali berbeda. Manajer West Ham, Rita Guarino, menyusun timnya dengan sangat tepat. Kemitraan di lini tengah antara Katie Zelem dan Saki Kumagai berhasil meredam ancaman Alexia Putellas dan Rosa Kafaji, sementara Riko Ueki menyapu bersih bola-bola di depannya.
Ancaman transisi yang dibangun Viviane Asseyi dan Kelly Gago membuat sisi kanan London City goyah sepanjang laga. Kedua pemain asal Prancis itu akhirnya menemukan ketajamannya di depan gawang lewat serangan balik yang presisi. Hasilnya, West Ham mengunci kemenangan pertama mereka di musim baru ini.
Fleksibilitas Liverpool dan Ketajaman Manchester City
Liverpool mengumpulkan empat poin dari dua pertandingan, meski ada rasa frustrasi karena seharusnya bisa menyapu enam poin penuh. Kemajuan mereka terlihat jelas dibandingkan setahun lalu, ketika butuh waktu hingga 25 Januari untuk meraih kemenangan pertama, yang kala itu justru datang melawan Tottenham. Pada laga terbaru, Tottenham yang sama kembali menjadi lawan, dan kali ini Liverpool harus puas berbagi angka.
Fleksibilitas taktik menjadi kunci tim asuhan Gareth Taylor untuk menyelamatkan satu poin. Tottenham sempat unggul setelah sepakan Signe Gaupset berbelok keras mengenai Sam Kerr, sebuah gol yang sedikit melawan jalannya pertandingan. Memasukkan Aurélie Csillag pada babak kedua terbukti tepat; pemain yang bergabung pada Januari itu mencetak gol penyeimbang.
“Mereka tidak akan mudah melepaskan ruang,” ujar Taylor. “Kadang ruang itu berubah. Aurélie yang masuk ke lapangan memberikan tipe ancaman berbeda bagi bek sayap karena fisiknya sangat baik.” Pernyataan itu menegaskan betapa pentingnya perubahan taktik pada babak kedua bagi Liverpool.
Sementara itu, Manchester City menjadi satu-satunya tim dengan rekor sempurna setelah dua pertandingan. Juara bertahan WSL tersebut tampil ganas dengan mengalahkan Aston Villa 4-1. Khadija Shaw sudah mengoleksi tiga gol dari dua laga, dan City mencatat 55 sentuhan di area lawan berbanding 15 milik Villa, serta 23 tembakan berbanding lima.
Memang, City baru menghadapi tim promosi Birmingham dan Aston Villa yang belum meyakinkan. Kita juga belum melihat bagaimana mereka tampil saat harus menambahkan jadwal Liga Champions ke dalam kalender. Namun, kekuatan lini serang yang dimiliki pelatih Andrée Jeglertz jelas patut diwaspadai lawan-lawan berikutnya.
Charlton dan Birmingham: Pelajaran Berharga
Manajer Charlton, Karen Hills, mengaku kecewa setelah kartu merah Ashleigh Neville pada babak kedua berujung kekalahan 1-0 dari Everton. Neville diusir keluar pada menit ke-58 karena mengangkat kaki terlalu tinggi terhadap Ruby Mace. Hills menilai kontak yang terjadi lebih banyak bersifat pinggul ke pinggul, tetapi ia tidak secara terang-terangan mengkritik wasit.
“Saya tidak berpikir wasit yang mengambil keputusan, melainkan wasit keempat, dan sepertinya mereka harus bekerja sama,” ujar Hills. “Ya, kakinya sedikit tinggi, tapi mengecewakan karena itu mengubah pertandingan.” Charlton harus bermain dengan sembilan pemain setelah Hawa Cissoko menerima dua kartu kuning dalam rentang waktu berdekatan.
Sementara itu, hasil imbang 2-2 Birmingham melawan Brighton sebenarnya terlihat mengesankan bagi sebuah tim promosi. Namun, pelatih kepala Amy Merricks tidak terlihat senang seusai laga. Timnya sempat unggul dua gol dengan sisa 15 menit, sebelum Olivia Garcia memperkecil kedudukan pada menit ke-77 dan Kiko Seike menyamakan skor di penghujung pertandingan.
Perbedaan pengalaman antara kedua tim kemungkinan berperan besar pada fase akhir pertandingan, terlebih Birmingham baru kembali ke WSL untuk pertama kalinya sejak 2022. “Kami akan mengambil pelajaran besar hari ini dari momen-momen akhir seperti itu dan bagaimana menuntaskannya dengan lebih baik,” kata Merricks. “Yang tidak bisa kami pertanyakan adalah penerapan dan niat kelompok ini. Mereka tampil di depan, mereka gigih.”
Papan Klasemen dan Konteks Lebih Luas
Setelah dua pertandingan, Manchester City memuncaki klasemen dengan enam poin. Chelsea dan Liverpool mengikuti dengan empat poin dan selisih gol yang lebih baik, disusul Tottenham, Arsenal, serta Crystal Palace yang juga mengumpulkan empat poin. Sementara itu, Manchester United terpuruk di dasar klasemen tanpa poin dengan selisih gol minus enam.
- 1. Manchester City Women – 2 laga, selisih gol +5, 6 poin
- 2. Chelsea Women – 2 laga, +5, 4 poin
- 3. Liverpool FC Women – 2 laga, +4, 4 poin
- 4. Tottenham Hotspur Women – 2 laga, +2, 4 poin
- 5. Arsenal Women – 2 laga, +1, 4 poin
- 6. Crystal Palace Women – 2 laga, +1, 4 poin
- 7. London City Lionesses – 2 laga, 0, 3 poin
- 8. Everton Women – 2 laga, 0, 3 poin
- 9. West Ham Women – 2 laga, -1, 3 poin
- 10. Brighton & Hove Albion Women – 2 laga, -1, 1 poin
- 11. Birmingham City Women – 2 laga, -2, 1 poin
- 12. Aston Villa Women – 2 laga, -3, 1 poin
- 13. Charlton Women – 2 laga, -5, 0 poin
- 14. Man Utd Women – 2 laga, -6, 0 poin
Posisi United di dasar klasemen tentu menjadi perhatian, namun perjalanan mereka masih panjang dan jadwal berat di awal musim turut memengaruhi hasil. Di sisi lain, Arsenal perlu segera menemukan ketajaman di depan gawang jika tidak ingin kembali tersandung seperti musim lalu. Persaingan di papan atas pun mulai terbentuk, dengan City, Chelsea, dan Liverpool menunjukkan performa yang paling konsisten.
Yang menarik dari pekan ini adalah bagaimana kualitas permainan tidak selalu sejalan dengan hasil. West Ham menang meski kalah dalam penguasaan bola, sementara Arsenal dan Birmingham harus kehilangan poin meski tampil dominan. Hal itu menegaskan bahwa di WSL musim ini, efisiensi di depan gawang dan ketenangan di momen-momen krusial akan menjadi pembeda utama dalam perebutan gelar.
Dari sederet talking points WSL pekan ini, satu benang merah tampak jelas: tim-tim yang mampu memaksimalkan peluang dan menjaga ketenangan di menit-menit akhir akan berada di jalur yang benar. Sebaliknya, mereka yang terus membuang kesempatan berisiko tertinggal, apa pun kualitas permainan yang ditampilkan di lapangan.
