6 Pertanyaan Timnas Wanita Inggris Jelang Piala Dunia Wanita

Timnas Wanita Inggris menuntaskan dua pekerjaan sekaligus dalam laga play-off Piala Dunia Wanita melawan Yunani. Tugas pertama adalah menghindari kejutan besar dan memastikan lolos secara agregat ke babak penentuan tiket, sesuatu yang seharusnya berjalan mulus bagi salah satu tim dengan sumber daya terbaik di dunia. Tugas kedua jauh lebih rumit, tetapi sama pentingnya: memoles gaya permainan agar Inggris tampil seperti kandidat juara di Piala Dunia di Brasil musim panas mendatang.

Modal Inggris sebenarnya sudah di tangan. Pada leg pertama di Kreta, Jumat lalu, mereka menang 3-1, tetapi penampilannya dinilai kurang meyakinkan dan menyisakan banyak ruang perbaikan. Para pemain kembali berlatih di St George’s Park pada Senin di bawah langit yang tampak mendung, dan delapan bulan ke depan akan menjadi periode krusial bagi juara Eropa tersebut. Setidaknya ada enam pertanyaan besar yang harus dijawab Sarina Wiegman dan skuadnya sebelum turnamen bergengsi itu bergulir.

Dua Tugas Timnas Wanita Inggris di Play-off Piala Dunia Wanita

Gambaran tentang dominasi yang belum sepenuhnya berbuah hasil terlihat jelas dari statistik leg pertama. Inggris mencatatkan 58 sentuhan di kotak penalti Yunani dan mengubahnya menjadi tiga gol, sementara Yunani hanya dua kali menyentuh bola di kotak penalti Inggris, tetapi mampu mencetak satu gol dan membentur mistar gawang. Angka itu menunjukkan bahwa Inggris menguasai jalannya pertandingan, namun sekaligus memperlihatkan betapa rapuh mereka ketika ditekan balik.

Justru dari situ muncul ketidaksenangan Wiegman. Ia secara terbuka menyatakan tidak puas karena timnya kebobolan, meski secara keseluruhan mereka sudah memimpin agregat. Bagi pelatih asal Belanda itu, kemenangan bukan satu-satunya ukuran, terutama karena laga kedua di Leicester akan menjadi kesempatan untuk menguji variasi permainan sebelum menghadapi lawan yang jauh lebih berat.

Wiegman juga memastikan akan melakukan sejumlah perubahan pada laga kedua. Rotasi itu masuk akal karena Inggris bermain di kandang dan punya keunggulan agregat, sehingga ia bisa memberi menit bermain kepada pemain yang selama ini menunggu kesempatan. Namun, keputusan tersebut harus tetap seimbang, sebab hasil akhir tetap harus diamankan agar tidak ada kejutan yang merusak jalan menuju Piala Dunia.

Pertahanan Jadi PR Utama

Pertanyaan pertama dan mungkin paling mendasar adalah apakah Inggris mampu bertahan cukup baik untuk merebut gelar dunia. Kekalahan 4-0 dari Spanyol pada Juni lalu menjadi pengingat pahit bahwa lini belakang Inggris masih menyisakan banyak kekurangan ketika menghadapi tim dengan kualitas teknis tinggi. Yunani, yang bukan tim sekelas Spanyol, bahkan bisa mencetak gol dan membentur mistar hanya dari dua sentuhan di kotak penalti.

Ada pula persoalan komposisi di jantung pertahanan. Kapten Leah Williamson sepertinya sudah pasti menjadi pilihan utama, tetapi hingga kini belum ada kejelasan siapa yang paling tepat mendampinginya. Ketidakpastian itu membuat lini belakang Inggris belum menemukan kemitraan yang benar-benar solid, padahal turnamen besar menuntut pemahaman antar pemain yang sudah matang.

Wiegman secara spesifik menyebut kemampuan menghentikan serangan balik sebagai hal yang wajib diperbaiki. Masalah ini bukan hal baru, karena Inggris juga kesulitan menghadapi serangan cepat ketika kalah di Belgia pada April 2025. Menariknya, pada tahun yang sama mereka tetap menemukan cara untuk menjuarai Euro, tetapi jika ingin mengangkat trofi dunia pertama di Maracanã pada Juli nanti, mereka harus jauh lebih rapat dalam bertahan.

Lini Depan Belum Klik di Sepertiga Akhir

Di sisi lain, lini serang Inggris juga belum menunjukkan ketajaman yang diharapkan. Melawan Yunani, mereka boros di sepertiga akhir lapangan, dan pola ini bukan pertama kali terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Dalam fase kualifikasi Piala Dunia, Inggris menang 1-0 dan 2-0 atas Islandia dalam laga yang seharusnya bisa berakhir dengan skor lebih besar.

Perbandingannya cukup mencolok ketika melihat Spanyol, tim peringkat satu dunia. Melawan Islandia, Spanyol menang 6-1 dan 3-0, menunjukkan efisiensi yang belum dimiliki Inggris. Ketajaman semacam itu yang membedakan antara tim yang sekadar menang dan tim yang benar-benar layak dianggap favorit juara.

Saat ditanya elemen apa dari penampilan leg pertama yang paling ingin ia perbaiki, Wiegman tidak ragu menunjuk eksekusi di area depan. “Eksekusi di sepertiga akhir. Kami sempat masuk ke posisi bagus, tetapi setelah itu soal tetap onside, umpan terakhir, umpan yang tepat pada momen yang tepat, lari pada waktu yang tepat, dan menentukan umpan silang atau cutback mana yang dipilih,” ujarnya. Jawaban itu menegaskan bahwa persoalannya bukan soal menciptakan peluang, melainkan soal kualitas keputusan di momen-momen krusial.

Siapa yang Layak Menjadi Nomor 10?

Posisi gelandang serang menjadi teka-teki yang paling lama menggantung. Sepanjang setahun terakhir, Wiegman seolah bergantian mencoba Jess Park, Lucia Kendall, dan Laura Blindkilde Brown, di samping Lauren James yang juga sangat mampu bermain di sana. Keputusan mencadangkan sekaligus memanggil kembali Ella Toone, ditambah pemanggilan Grace Clinton pada menit terakhir, semakin menambah tanda tanya.

Debut Erica Meg Parkinson pada Jumat lalu menambah satu nama muda ke dalam daftar kandidat, sementara Beth Mead juga bisa dipasang sebagai nomor 10. Artinya, Inggris punya banyak pilihan dengan karakter berbeda, dari kreator murni hingga pemain yang lebih agresif masuk ke kotak penalti. Fleksibilitas ini bisa menjadi keunggulan, tetapi juga berisiko membuat tim kehilangan identitas jika terus berganti-ganti.

Ketika ditanya apakah posisi nomor 10 adalah yang paling banyak menyimpan tanda tanya, Wiegman menolak membaca situasi itu sebagai kelemahan. Menurutnya persaingan di posisi tersebut justru membuka banyak opsi, termasuk kemungkinan menerapkan pendekatan taktis yang berbeda-beda. “Anda bisa menyebutnya tanda tanya, saya menyebutnya banyak pilihan,” katanya.

Sayap Kanan dan Peluang Pemain Muda

Jika posisi sayap kiri seolah sudah menjadi milik Lauren Hemp berkat performa gemilangnya bersama Manchester City, sisi kanan justru belum jelas pemiliknya. Situasi kian menarik karena Chloe Kelly tidak masuk dalam skuad. James, pemain paling mumpuni secara teknis yang dimiliki Inggris, bisa menjadi pilihan utama bagi banyak orang, namun ia juga dibutuhkan di tengah lapangan.

Nama lain yang mencuri perhatian adalah Freya Godfrey, pemain tanpa caps yang tampil impresif bersama London City Lionesses. Pada leg pertama, Blindkilde Brown turun sebagai starter di sisi kanan sebelum digantikan Mead saat turun minum. Waktu yang tersisa sebelum musim panas hanya menyisakan beberapa laga, sehingga membangun koneksi dan fluiditas di sisi kanan menjadi pekerjaan mendesak.

Seruan agar pemain muda diberi kesempatan juga semakin kuat. Gelandang Chelsea berusia 20 tahun, Lexi Potter, banyak diminta untuk segera debut, sementara Godfrey yang berusia 21 tahun berpotensi tampil pada laga kedua. Rekan setim Potter di Chelsea, Keira Walsh, menyebut bahwa akhirnya Potter mendapat pengakuan atas kualitasnya, dan menilai kecerdasan pemain muda itu membuatnya bisa diandalkan untuk menghentikan serangan balik lawan.

Pujian serupa datang untuk Parkinson. Esme Morgan, yang pernah berhadapan dengannya di NWSL, menggambarkan pemain berusia 18 tahun itu sebagai sosok yang cerdas, sangat rapi menguasai bola, dan punya pergerakan yang luar biasa bagus. Hanya saja, belum diketahui apakah Wiegman akan lebih memilih pengalaman atau memberi ruang lebih besar bagi generasi muda seiring berjalannya musim.

Ketidakpastian Masa Depan Sarina Wiegman

Di luar urusan taktik, hal terbesar yang belum terjawab adalah masa depan Wiegman. Kontraknya akan berakhir pada akhir Piala Dunia, dan hingga kini belum ada tanda-tanda perpanjangan. Selama kejelasan itu belum ada, topik tersebut diperkirakan akan terus muncul dalam setiap konferensi pers Inggris, betapa pun pelatih dan pemain berusaha mengalihkan fokus ke pertandingan.

Sejauh ini tidak ada indikasi bahwa ketidakpastian tersebut mengganggu ketenangan skuad. Walsh secara terbuka mengakui bahwa ia berharap Wiegman bertahan dan menilai seluruh publik Inggris menginginkan hal yang sama, seraya menegaskan bahwa keputusan akhir tetap ada di tangan sang pelatih. Pernyataan itu menunjukkan bahwa para pemain menghormati posisi Wiegman tanpa berusaha menekannya.

Wiegman sendiri enggan membahas persoalan kontraknya. Ia hanya menegaskan bahwa perhatian tim saat ini sepenuhnya tertuju pada laga melawan Yunani, dan tidak ingin membicarakan dirinya sendiri. Sikap itu konsisten dengan cara ia menjaga fokus pemain agar tetap pada target jangka pendek, meskipun pertanyaan tentang masa depannya hampir pasti akan terus menghantui.

Dari enam pertanyaan tersebut, semuanya bermuara pada satu hal: seberapa siap Inggris bersaing dengan tim-tim terbaik dunia. Menyelesaikan urusan dengan Yunani adalah langkah wajib yang harus dituntaskan lebih dulu, tetapi laga di Leicester juga berfungsi sebagai uji coba untuk memperbaiki pertahanan, mempertajam penyelesaian akhir, dan memperjelas hierarki pemain di beberapa posisi kunci.

Dengan waktu sekitar delapan bulan menuju Piala Dunia di Brasil, Wiegman masih punya ruang untuk merapikan semuanya. Namun, waktu itu akan terasa singkat jika Inggris terus mengulang masalah yang sama di setiap pertandingan. Jawaban atas enam pertanyaan ini, bukan hanya hasil melawan Yunani, yang akan menentukan seberapa jauh juara Eropa ini bisa melangkah di Maracanã nanti.