Pascal Gross bukan tipe pesepak bola yang menghabiskan libur musim panas dengan berbaring berjam-jam di tepi pantai. Setelah tersingkir bersama timnas Jerman di perempat final Euro 2024, gelandang berusia 35 tahun itu justru mendaftar ke sebuah lomba lari 8,4 kilometer di Pulau Juist, Kepulauan Frisia Timur, dan memenanginya dengan catatan waktu 31 menit 35 detik.
Kemenangan itu nyaris tidak diketahui siapa pun. Gross memang tidak dikenal sebagai sosok yang mencari sorotan, dan hasil balapan tersebut baru terungkap setelah seorang peserta lain mengunggah video ke media sosial. Bagi Brighton & Hove Albion, kebiasaan berlari Gross bukan sekadar hobi yang menggemaskan; itulah yang membantu menjelaskan mengapa ia masih mampu menempuh rata-rata lebih dari 11,5 kilometer per pertandingan dan menjadi pemain dengan jarak tempuh tertinggi ketiga di Premier League musim ini.
Menang balapan, lalu langsung bergabung latihan pramusim
Gross mencatat waktu 31 menit 35 detik di Juist, dan ia menang dengan selisih lebih dari satu menit atas pesaing terdekatnya. Prestasi itu tidak pernah ia umumkan sendiri. Publik baru mengetahuinya ketika rekaman video dari peserta lain beredar, sebuah pola yang konsisten dengan karakter Gross selama ini: bekerja keras tanpa perlu dipamerkan.
Beberapa hari setelah balapan itu, ia terbang ke Jerman untuk melapor ke Borussia Dortmund, klub masa kecilnya, guna menjalani latihan pramusim. Kepindahan tersebut menandai berakhirnya tujuh tahun Gross di Premier League bersama Brighton, sebelum akhirnya ia kembali ke Inggris pada Januari dengan harga sekitar 1,2 juta poundsterling.
Obsesi Gross terhadap lari bukan hal baru di lingkungan Brighton. Mantan rekannya, James Milner, dikenal memiliki kegemaran serupa dan bahkan mengungkapkan bahwa ia sedang bersiap untuk maraton setelah memutuskan pensiun. Pelatih kepala Brighton, Fabian Hürzeler, menanggapi kebiasaan anak asuhnya itu dengan nada bercanda.
Menurut Hürzeler, di waktu luang Gross selalu memikirkan di mana ia bisa mengikuti lomba lari berikutnya karena ia tidak pernah bisa diam. Pelatih asal Jerman itu menambahkan bahwa Gross bukan orang yang sanggup menghabiskan berjam-jam rebahan di pantai tanpa melakukan apa pun; ia selalu butuh aktivitas.
Kepulangan murah ke Amex dan kepercayaan Hürzeler
Gross pertama kali bergabung dengan Brighton pada 2017 dari Ingolstadt, di musim panas yang sama ketika klub itu promosi ke Premier League. Sejak saat itu ia tercatat mengumpulkan 75 gol dan assist, angka yang menempatkannya sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah modern klub. Karena itu, kepergiannya ke Dortmund setahun setelah ia pertama kali mendapat panggilan timnas Jerman terasa berat bagi banyak pihak.
Kepindahan ke Dortmund memang memenuhi mimpi masa kecilnya, tetapi ada sesuatu yang terus menarik Gross kembali ke Brighton, klub yang menjulukinya “Kaiser”. Dalam wawancara, ia mengakui bahwa meninggalkan Brighton terasa sangat sulit dan hanya sesuatu yang benar-benar istimewa yang bisa membuatnya pergi. Ia juga menyebut ada beberapa opsi lain sebelum ia kembali, tetapi Brighton selalu menjadi prioritas utama.
Selama masa perpisahan itu, Gross mengaku tetap menjaga komunikasi dengan para pemain. Ia menyadari bahwa biasanya orang akan semakin jarang menonton pertandingan atau menghubungi mantan rekan setim seiring waktu, namun hal itu tidak pernah terjadi padanya. Hürzeler sendiri disebut berperan penting dalam proses membujuk Gross untuk pulang.
Satu detail yang jarang diketahui publik: Gross selalu bermain dengan lengan panjang karena alergi rumput. Ia juga memutuskan pensiun dari timnas Jerman setelah Piala Dunia, keputusan yang secara tidak langsung menguntungkan Brighton karena membuat sang gelandang bisa sepenuhnya fokus pada klub.
Selalu “satu langkah di depan” lawan
Kepercayaan Hürzeler terbayar. Gross dinobatkan sebagai pemain terbaik Premier League bulan September, dan ia telah menyumbang total tujuh gol serta assist. Ia juga masuk lima besar untuk sejumlah metrik lain, termasuk peluang besar yang diciptakan (enam), peluang yang lahir dari permainan terbuka (14), dan umpan yang memecah garis pertahanan dan berujung gol (tiga).
Statistik itu lahir di dalam tim yang telah mencetak 23 gol dalam tujuh pertandingan, angka yang termasuk tertinggi dalam sejarah Premier League pada fase tersebut. Di antara para pemain Brighton, Gross tampil paling menonjol. Hürzeler bahkan menyamakan gelandang 35 tahun itu dengan anggur berkualitas: semakin tua, semakin baik.
Penjelasan taktisnya datang langsung dari sang pelatih. Menurut Hürzeler, Gross kadang tampak satu langkah lebih maju daripada lawannya. Ia mungkin bukan pemain tercepat dalam hal lari, tetapi bisa jadi yang tercepat dalam berpikir, dan keunggulan di kepala itu sering kali jauh lebih berguna.
Hürzeler juga mengakui bahwa tidak ada yang menyangka performa Gross akan seheboh ini. Namun bagi sang pelatih, capaian tersebut sekaligus membuktikan bahwa tubuh Gross masih menyimpan kapasitas yang besar meski usianya tidak lagi muda.
Mentor bagi generasi muda Brighton
Di klub yang sangat menghargai pengalaman, meski Hürzeler sendiri merupakan manajer permanen termuda dalam sejarah Premier League, Gross dipandang sebagai teladan ideal bagi para pemain muda. Sumber di dalam klub menyebut disiplin dan cara kerjanya menjadi contoh nyata yang mudah ditiru oleh pemain yang baru menembus tim utama.
Charalampos Kostoulas menjadi salah satu yang paling terlihat manfaatnya. Penyerang berusia 19 tahun asal Yunani itu mencetak tiga gol dalam empat pertandingan liga terakhirnya, dan ia berkembang di samping pemain yang kini mendekati 300 penampilan untuk Brighton. Nama Diego Gómez, gelandang dinamis asal Paraguay yang mencetak gol kandidat terbaik musim ini ke gawang Crystal Palace, juga masuk daftar pemain yang terbantu.
Selain keduanya, talenta jebolan akademi Jack Hinshelwood dan gelandang sentral Yasin Ayari turut merasakan dampak kehadiran Gross. Bahkan Hürzeler sendiri diakui banyak belajar dari cara Gross membaca pertandingan dan mengatur tempo di lapangan.
Ujian jadwal berat dan peluang mencatat rekor
Kontribusi Gross terbaru terlihat saat Brighton menghancurkan Crystal Palace 5-0. Tendangan bebasnya berujung pada gol bunuh diri Jaydee Canvot, dan laga itu menjadi pertandingan ketiga beruntun di mana Gross mencatatkan assist. Jika ia kembali menyumbang assist di laga berikutnya, ia berpeluang menjadi pemain tertua yang mencetak assist dalam empat pertandingan beruntun sejak Gianfranco Zola melakukannya untuk Chelsea pada Desember 2002.
Namun jadwal ke depan tidak akan ramah. Laga di Anfield menjadi bagian dari rangkaian lima pertandingan tandang beruntun, setelah Brighton bermain imbang di markas klub Ceko Jablonec di Conference League. Setelah itu, anak asuh Hürzeler harus menghadapi Manchester City dua kali dalam empat hari, dimulai dari Carabao Cup, sebelum terbang ke Spanyol untuk melawan Getafe.
Rangkaian tersebut akan menguji ketangguhan Brighton setelah start spektakuler mereka. Di sinilah nilai Gross semakin terasa: ia telah menjadi starter di setiap pertandingan di semua kompetisi musim ini, dan Hürzeler bisa mengandalkannya untuk bertahan sampai akhir periode padat tersebut.
Kesimpulan
Kisah Pascal Gross adalah perpaduan antara disiplin pribadi yang ekstrem dan kecerdasan bermain yang jarang dimiliki pemain seusianya. Balapan lari 8,4 kilometer yang ia menangi diam-diam di Kepulauan Frisia Timur ternyata sejalan dengan cara ia menempuh rata-rata lebih dari 11,5 kilometer di setiap pertandingan Premier League, menjadikannya salah satu pemain paling banyak bergerak di liga.
Bagi Brighton, keputusan menghadirkan kembali Gross dengan harga 1,2 juta poundsterling tampak seperti salah satu pembelian paling menguntungkan dalam beberapa tahun terakhir. Dengan jadwal tandang yang berat menanti, termasuk lawatan ke Anfield dan dua pertemuan dengan Manchester City, sosok yang selalu “satu langkah di depan” itu akan menjadi penentu apakah start cepat Brighton mampu bertahan hingga akhir musim.
