Millwall vs West Ham akhirnya kembali tersaji setelah 14 tahun tanpa pertemuan. Duel bertajuk derby London itu digelar di The Den, markas Millwall, pada Sabtu mendatang, dan yang menyambutnya bukan suasana reuni yang hangat, melainkan tensi yang membara. Atmosfer pertandingan diprediksi akan sangat sengit, dengan harapan utama semua pihak agar sorotan tetap tertuju pada sepak bola, bukan pada kerusuhan di luar lapangan.
Absennya laga ini selama lebih dari satu dekade ternyata tidak membuat kerinduan tumbuh. Kedua klub memang sangat jarang bertemu, tetapi rekam jejak pertemuan mereka dipenuhi sejarah kelam yang membuat setiap duel selalu dinanti dengan campuran rasa penasaran dan waspada. Karena itu, laga ini bukan sekadar pertandingan liga biasa bagi Millwall, West Ham, maupun otoritas keamanan London yang harus menyiapkan pengamanan ekstra.
Laga ke-100 dan Persaingan yang Jarang Terjadi
Jika turnamen-turnamen kecil yang sudah tidak lagi digelar ikut dihitung, pertemuan Sabtu nanti akan menjadi duel kompetitif ke-100 antara kedua klub. Angka itu terbilang unik karena keduanya sangat jarang bersua. Sejak Perang Dunia II, mereka hanya bertemu 18 kali di liga, dan hanya pada musim 1988-89 keduanya sama-sama berada di kasta teratas.
Pada musim itu, Millwall bertahan di divisi teratas sementara West Ham justru terdegradasi. Pola inilah yang membuat pertemuan mereka begitu jarang terjadi: biasanya laga ini baru bisa digelar jika West Ham sedang terpuruk dan bermain di kasta yang sama dengan Millwall. Dengan kata lain, jika West Ham harus mencari jadwal Millwall saat daftar pertandingan keluar, ada sesuatu yang salah dengan performa mereka.
Secara geografis pun, keduanya sebenarnya tidak bersebelahan. Millwall berada di selatan Sungai Thames, sehingga Crystal Palace dan Charlton secara logika lebih pantas disebut rival terdekat. Banyak orang bisa dimaafkan jika sulit memahami dari mana permusuhan ini berasal, karena akar perseteruan mereka sama sekali bukan soal sepak bola.
Akar Permusuhan: Galangan Kapal dan Tradisi Hooligan
Permusuhan Millwall dan West Ham berakar pada tribalisme yang mengendap jauh ke belakang, sejak kedua klub dibentuk oleh perusahaan galangan kapal yang saling bersaing di dermaga kawasan Isle of Dogs, London Timur. Identitas kedaerahan dan kebanggaan kelompok pekerja itulah yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi, jauh melampaui apa yang terjadi di atas lapangan.
Hooliganisme yang merajalela di sepak bola Inggris pada 1970-an dan 1980-an memperkuat perseteruan ini. Kedua klub memiliki kelompok-kelompok suporter garis keras yang terkenal menakutkan, dan bentrokan di antara mereka menjadi bagian dari sejarah kelam yang sulit dihapus. Karena itu, persaingan ini lebih banyak ditentukan oleh elemen di luar lapangan ketimbang oleh rivalitas olahraga yang sehat.
Ada banyak momen ketika kebencian ini meledak di luar kendali. Kerusuhan meletus ketika kedua tim bertemu di The Den dalam laga testimonial untuk bek Millwall, Harry Cripps, pada 1972. Rasa permusuhan terus memburuk hingga seorang suporter Millwall bernama Ian Pratt meninggal dunia setelah bentrok dengan pendukung West Ham di stasiun New Cross pada 1976. Dua peristiwa itu penting untuk diingat, terutama ketika orang-orang mencoba membesar-besarkan laga ini seolah hanya soal gengsi di tribun.
Jejak Kerusuhan dari 2004 hingga 2009
Rangkaian kerusuhan berlanjut di era modern. Pada Maret 2004, polisi berkuda sampai harus turun ke lapangan ketika suporter West Ham mengamuk dan merusak kursi-kursi stadion saat tim mereka kalah 4-1 di The Den. Delapan bulan kemudian, ketika West Ham kembali bertandang, suporter tamu tidak diizinkan menempati tribun bawah sebagai langkah pencegahan.
Puncak keburukan terjadi pada Agustus 2009, dalam laga babak kedua Piala Liga di Upton Park, markas lama West Ham. Kekacauan terjadi di dalam maupun di luar stadion. Seorang pria berusia 44 tahun ditikam di bagian dada saat kerusuhan berkobar di luar, sementara polisi antihuru-hara berjuang memulihkan ketertiban di dalam stadion.
Pertandingan bahkan sempat dihentikan sementara setelah West Ham mencetak gol, karena sebagian pendukung tuan rumah masuk ke lapangan. Peristiwa itu menjadi contoh paling gamblang betapa rapuhnya situasi ketika kedua klub bertemu. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari kejadian semacam itu, dan itulah alasan mengapa setiap pertemuan berikutnya selalu diselimuti kewaspadaan berlebih.
Dampak bagi Kedua Klub dan Kota London
Bagi Millwall, laga ini menempatkan mereka pada posisi yang justru nyaman: sebagai pihak yang dianggap tidak diunggulkan. Millwall biasanya mampu tampil di atas ekspektasi dalam peran tersebut. Setelah West Ham terdegradasi pada 2003, Millwall yang saat itu punya tim cukup kuat, bahkan mencapai final Piala FA pada 2004, meraih dua kemenangan dan dua hasil imbang melawan West Ham sebelum Alan Pardew membawa The Hammers kembali ke Premier League pada 2005.
West Ham sendiri sering kesulitan menyamai intensitas laga ini. Sebagian pendukung mereka lebih peduli mengalahkan Chelsea dan Tottenham, sehingga bertandang ke Stamford Bridge atau N17 terasa sebagai pengalaman yang biasa. Namun perjalanan ke selatan sungai menuju Millwall dianggap berbeda: perjalanan kereta singkat dari London Bridge terasa seperti ekspedisi menuju planet asing yang bermusuhan.
Justru karena itulah laga ini punya daya tarik tersendiri. Kelangkaan pertemuan menambah kesan mistis, sekaligus memperbesar ekspektasi. Laga yang sudah lama tidak terjadi cenderung diingat lebih dramatis daripada kenyataannya, dan itu berlaku pada hampir semua rivalitas sepak bola yang jarang tersaji.
Pengamanan Ketat dan 1.774 Tiket untuk Suporter Tamu
Untuk laga Sabtu nanti, West Ham hanya mendapat jatah 1.774 tiket bagi suporter tandang. Metropolitan Police akan menerapkan sejumlah langkah untuk memisahkan pendukung kedua tim sejauh mungkin. Salah satu instrumen utamanya adalah jalur khusus yang menghubungkan stasiun South Bermondsey dengan tribun suporter tamu, yang berfungsi sebagai semacam pendingin sebelum kerumunan masuk ke stadion.
Meski begitu, suasana tetap akan terasa tegang. The Den dikenal sempit, padat, dan intimidatif, faktor-faktor yang membuat keunggulan tuan rumah terasa lebih nyata. Millwall sendiri tidak terkalahkan dalam lima pertemuan kandang terakhir melawan West Ham, terhitung sejak kekalahan mereka pada 1988. Catatan itu akan menjadi modal psikologis tersendiri bagi pasukan tuan rumah.
Sementara itu, West Ham datang dengan modal empat kemenangan beruntun di liga. Terakhir kali mereka menghantam Wrexham dengan skor 6-0 pada akhir pekan lalu, sebuah hasil yang mengantar mereka ke puncak klasemen Championship. Catatan itu jelas membuat West Ham lebih difavoritkan, meski di laga sebesar ini hitung-hitungan di atas kertas tidak selalu berlaku.
Modal Millwall dan Kondisi Terkini Kedua Tim
Di kubu Millwall, tim asuhan Alex Neil hampir saja meraih promosi otomatis pada musim lalu, tetapi musim ini berjalan kurang mulus. Sejumlah cedera mengganggu konsistensi mereka, dan saat ini Millwall berada di peringkat ke-10 setelah awal musim yang naik-turun. Kondisi itu membuat mereka kian sering diposisikan sebagai pihak yang meremehkan peluang sendiri.
Di sisi lain, West Ham punya pengalaman pahit sekaligus manis saat terakhir kali kedua tim bertemu pada Februari 2012. Kala itu West Ham menang di Upton Park, bahkan mampu bangkit setelah Kevin Nolan mendapat kartu merah lebih awal. Namun secara umum, West Ham cenderung kesulitan ketika harus bermain tandang ke markas Millwall.
Perbedaan-perbedaan inilah yang membuat laga ini sulit diprediksi. Ada ketimpangan kualitas yang jelas berdasarkan performa terkini, tetapi ada pula faktor nonteknis yang membuat The Den menjadi tempat yang tidak nyaman bagi tim tamu mana pun, terutama bagi West Ham.
Penutup
Pertemuan Millwall vs West Ham setelah 14 tahun membawa dua sisi sekaligus: gairah sepak bola yang sudah lama tertunda, dan bayang-bayang kerusuhan yang tidak pernah benar-benar hilang. Sejarah panjang konflik antara kedua klub, dari galangan kapal di Isle of Dogs hingga peristiwa kelam 2009, membuat laga ini jauh lebih besar dari sekadar tiga poin.
Yang paling diharapkan oleh banyak pihak sederhana saja: agar pengamanan berjalan mulus, pertandingan berlangsung aman, dan seluruh pembicaraan setelahnya hanya soal sepak bola. Secara logika, West Ham lebih berpeluang menang berkat performa apik mereka belakangan ini. Namun setelah peluit panjang dibunyikan, logika sering kali tidak lagi berarti banyak di laga seperti ini.
