Lewis Koumas menjadi bintang kemenangan Liverpool 3-1 atas Tottenham pada putaran ketiga Carabao Cup di Anfield, Selasa malam. Penyerang berusia 20 tahun itu menerima trofi man of the match dari tangan Cody Gakpo begitu laga usai. Sebelum menemui awak media, ia lebih dulu mengangkat telepon untuk menghubungi keluarganya dan menunjukkan penghargaan tersebut.
Penampilan Lewis Koumas malam itu bukan sekadar catatan statistik, melainkan jawaban langsung atas tuntutan pelatih kepala Andoni Iraola. Sebelum laga, Iraola menyentil pemain-pemain yang lebih mahal dan lebih berlabel supaya tampil lebih gencar menekan, menyusul hasil imbang datar melawan Fulham pada Sabtu. Koumas sebenarnya tidak masuk dalam perbincangan itu, tetapi ia tampak menyerap pesan tersebut dan bekerja tanpa henti menghadapi lini belakang Spurs.
Aksi di Anfield dan Trofi Man of the Match Pertama
Setelah pertandingan berakhir, Koumas menyempatkan diri menelepon keluarganya sebelum berbicara kepada media. Ia menuturkan bahwa ibunya berada di Anfield malam itu bersama nenek, kakek, dan saudara perempuannya yang menonton dari salah satu box. “Itu tadi ibu saya,” ujar penyerang Liverpool tersebut. “Mereka semua ada di box. Saya langsung menelepon untuk menunjukkan trofinya dan mereka sangat senang.”
Di atas lapangan, Koumas tampil sebagai sosok yang menguras tenaga demi menekan pertahanan Tottenham. Ia membuka ruang dan menciptakan peluang yang bisa dimanfaatkan rekan-rekannya, meski namanya tidak selalu muncul di daftar pencetak gol. Cara bermain seperti itulah yang membuat Iraola menaruh perhatian besar pada dirinya sejak awal.
Iraola sendiri tidak menyembunyikan kekagumannya. “Energi yang ia tunjukkan itu menular,” kata sang pelatih. “Saya sangat senang untuknya. Ia melakukan ini setiap hari di latihan. Ia sangat jelas soal apa yang harus ia lakukan dan apa yang dibutuhkan tim.” Pujian itu datang dari seorang pelatih yang sebelumnya justru menyoroti kurangnya intensitas di lini depan timnya.
Perjalanan Panjang Lewis Koumas Menembus Skuad Utama
Kepercayaan Iraola kepada Koumas terbangun hanya dalam hitungan minggu setelah kedatangannya pada musim panas ini. Ia disebut menyampaikan langsung kepada direktur olahraga Liverpool saat itu, Richard Hughes, bahwa ia menginginkan Koumas masuk skuad tim utama dan tidak lagi dipinjamkan ke klub lain. Keputusan itu diambil setelah Koumas tampil meyakinkan pada tur pramusim di Amerika Serikat.
Sebelum itu, jalan Koumas memang tidak mulus. Ia pertama kali diberi kesempatan tampil sebagai starter oleh Jürgen Klopp lebih dari dua tahun lalu, dan menandai debut penuhnya dengan sebuah gol dalam kemenangan 3-0 atas Southampton di putaran kelima Piala FA. Namun setelah momen itu, ia nyaris tidak lagi tampil untuk klub masa kecilnya hingga Iraola datang.
Periode di antaranya diisi dengan tiga masa peminjaman yang berbeda. Koumas menjalani musim 2024-25 di Stoke, paruh pertama 2025-26 di Birmingham, lalu menghabiskan sisa musim itu di Hull. Tiga persinggahan itu menjadi cara baginya mengumpulkan menit bermain sebelum kembali bersaing di skuad utama Liverpool.
Sejak kembali, ia sudah mencatatkan penampilan pertamanya di Premier League dan Liga Champions sebagai pemain pengganti. Kini, ia menambahkan satu pencapaian baru ke dalam daftarnya: trofi man of the match pertamanya di level senior. Ketika ditanya apakah ia pernah membayangkan hal ini terjadi sejak awal pramusim, Koumas menjawab bahwa dirinya tidak akan percaya.
Kenapa Performa Ini Penting bagi Liverpool
Bagi Koumas, penghargaan man of the match ini menegaskan bahwa ia layak dipertimbangkan secara serius, bukan hanya sebagai pelapis. Ia berada di usia 20 tahun, akan genap 21 tahun pada Sabtu, dan baru saja menunjukkan bahwa ia mampu menjalankan instruksi taktis sang pelatih dalam pertandingan kompetitif. Momen seperti ini biasanya menjadi titik balik bagi pemain muda yang tengah mencari pijakan.
Dari sisi Liverpool, penampilan Koumas menjadi bukti bahwa tuntutan Iraola soal pressing dan kegigihan bisa dijawab oleh pemain dari dalam sendiri. Sang pelatih menginginkan pemain depan yang tidak hanya menunggu bola, tetapi juga bekerja keras tanpa bola untuk merebut kembali penguasaan. Koumas memperlihatkan bahwa ia memahami peran itu dan bersedia menjalankannya sampai kehabisan tenaga.
Lebih jauh, penampilan itu turut memanaskan persaingan di lini depan Liverpool. Pemain-pemain yang lebih berpengalaman dan lebih mahal mendapat tekanan tambahan karena ada sosok muda yang siap mengambil kesempatan. Situasi semacam ini biasanya menguntungkan tim secara keseluruhan, karena setiap pemain dituntut membuktikan diri di setiap sesi latihan dan pertandingan.
Filosofi “The Liverpool Way” yang Ia Bawa
Koumas sendiri tidak melihat performanya sebagai sesuatu yang istimewa secara pribadi. Ia menyebut cara bermainnya sebagai bagian dari identitas klub. “Cara saya bermain pada akhirnya adalah cara Liverpool,” katanya. “Kami selalu menjadi klub di mana para pemain harus memberikan segalanya di lapangan. Kami membawa itu kembali sekarang dan penonton menyukainya.”
Ia menambahkan bahwa sebagian besar kontribusinya justru terjadi ketika bola tidak berada di kakinya. Menurut Koumas, sang pelatih telah menunjukkan kepercayaan bahwa ia mampu menjalankan rencana taktis tim. Kepercayaan itu, katanya, menjadi sumber motivasi besar karena ia dipercaya tampil dalam laga sebesar melawan Tottenham.
Koumas juga memiliki latar belakang yang mendukung pemahaman soal sepak bola sejak dini. Ia lahir di Chester dan merupakan putra dari Jason Koumas, mantan gelandang kreatif Tranmere dan West Brom. Ia telah mengantongi 12 penampilan bersama tim nasional Wales, dan menyebut Michael Owen serta Gareth Bale sebagai sosok yang menginspirasinya semasa kecil.
Langkah Berikutnya Menuju Bournemouth
Koumas akan merayakan ulang tahunnya yang ke-21 pada Sabtu, sehari sebelum Liverpool bertandang ke markas Bournemouth. Laga itu terasa istimewa karena Bournemouth merupakan klub yang pernah ditangani Iraola sebelum ia menangani Liverpool. Kombinasi dua hal tersebut membuat pertandingan akhir pekan nanti menarik untuk dicermati.
Soal masa depan, Koumas tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ia dapatkan. “Saya ingin terus melaju sekarang,” ujarnya. Ia juga menyadari bahwa kesempatan bermain untuk Liverpool tidak datang dua kali, sehingga ia berusaha memberikan segalanya setiap kali mendapat menit bermain.
Ia mengakui bahwa semangat dan rasa laparnya tidak pernah hilang meski harus melewati masa-masa sulit. Menurut Koumas, rasa lapar itu bersumber dari keinginan membela Liverpool, klub terbaik menurutnya, dan keinginan memberi segalanya untuk klub tersebut. Ia juga menegaskan tidak pernah menunjukkan mentalitas lemah saat memikirkan masa depannya di klub itu.
Koumas menjelaskan bahwa keputusan pergi ke klub lain dengan status pinjaman adalah cara mempersiapkan diri untuk momen seperti sekarang. Ia menyadari bahwa banyak pemain kehilangan rasa lapar seiring berjalannya karier, tetapi ia memastikan hal itu tidak terjadi pada dirinya. Perjalanan dari akademi hingga menembus tim utama membuatnya tetap menjaga ambisi tersebut.
Kesimpulan
Penampilan Lewis Koumas melawan Tottenham menegaskan bahwa kepercayaan Iraola kepadanya bukan tanpa alasan. Ia mencetak trofi man of the match pertama di level senior, menjalankan peran taktis yang diminta pelatih, dan menegaskan bahwa energi serta kegigihan adalah bagian dari identitas permainannya. Semua itu ia raih setelah melewati tiga masa peminjaman yang membentuk kesiapannya sekarang.
Yang tersisa kini adalah menjaga konsistensi, baik ketika dipercaya tampil sejak awal maupun saat masuk sebagai pengganti. Dengan jadwal menuju Bournemouth di depan mata dan usia yang baru menginjak 21 tahun, jalan Koumas bersama Liverpool masih panjang dan masih terbuka lebar untuk dibentuk.
