FIFA akhirnya bersedia membuka dokumen seputar FIFA Forward Enterprise (FFE) kepada para anggota Council, tetapi hanya dalam bentuk pemeriksaan langsung di kantor pusatnya di Zurich, Swiss, dengan protokol kerahasiaan yang sangat ketat. Lewat skema itu, FIFA sekaligus tidak menjawab secara langsung lebih dari 50 pertanyaan yang dilayangkan UEFA mengenai tata kelola organisasi dan sejumlah kontroversi dalam dua belas bulan terakhir. Dokumen tersebut hanya boleh dibaca di tempat, sementara sifat dan cakupan materi yang disediakan belum dijelaskan secara rinci.
Langkah ini menjadi penting karena terjadi di tengah memanasnya hubungan antara FIFA dan UEFA, dua institusi yang biasanya berjalan seiring dalam mengelola sepak bola dunia. Ketegangan tersebut muncul menjelang pemilihan presiden FIFA tahun depan, ketika posisi Gianni Infantino sebagai orang nomor satu di federasi dunia mulai dipertanyakan. Cara FIFA menanggapi permintaan transparansi akan menjadi ukuran seberapa besar ruang kritik yang tersisa bagi anggota dan konfederasi di dalam struktur organisasi.
Isi Surat FIFA: Dokumen Hanya Bisa Dilihat di Zurich
Materi soal FFE akan dibuka melalui surat yang dikirim Mattias Grafström, sekretaris jenderal FIFA, kepada seluruh anggota FIFA Council. Dalam surat itu dinyatakan bahwa dokumen terkait skema yang disebut sudah tidak berjalan tersebut akan disediakan agar bisa dilihat langsung oleh para anggota di markas FIFA di Zurich. Akses diberikan secara terbatas: hanya untuk dibaca di tempat, tanpa salinan, dan terikat aturan kerahasiaan yang ketat.
FIFA menetapkan batas waktu 16 November bagi anggota Council yang ingin mengajukan permohonan kunjungan untuk memeriksa dokumen tersebut. Tanggal itu menarik untuk dicermati karena jatuh hanya dua hari sebelum para kandidat pemilihan FIFA tahun depan diwajibkan mendeklarasikan pencalonan mereka. Dengan kata lain, dokumen yang diperebutkan justru tersedia tepat di momen ketika peta politik internal federasi mulai terbentuk.
Sejauh ini belum ada keterangan resmi mengenai dokumen apa saja yang akan disingkap, berapa banyak berkas yang tersedia, atau apakah materi tersebut benar-benar menjawab pertanyaan yang diajukan UEFA. Ketidakjelasan soal cakupan ini membuat janji keterbukaan sulit dinilai sebelum kunjungan benar-benar dilakukan. Anggota Council pun belum mendapat gambaran apakah akses itu bersifat menyeluruh atau hanya sebagian.
Kronologi: Tenggat Dua Minggu yang Berakhir Senin Malam
UEFA mengirim surat kepada Grafström pada 19 Oktober, memberi FIFA waktu dua minggu untuk menjawab serangkaian pertanyaan. Pertanyaan itu mencakup FFE, kasus Folarin Balogun, hadiah perdamaian FIFA, hubungan organisasi dengan Donald Trump, serta sejumlah keputusan besar lain yang memicu kontroversi dalam dua belas bulan terakhir. UEFA juga meminta seluruh dokumen terkait FFE dibuka untuk diakses, bukan hanya diringkas dalam jawaban tertulis.
Dalam suratnya, UEFA menegaskan bahwa setiap penolakan atas permintaan mereka harus dijustifikasi satu per satu, disertai penjelasan yang jelas mengenai alasan spesifik yang dipakai. Syarat itu menunjukkan bahwa UEFA tidak ingin menerima jawaban umum yang menutup pintu tanpa argumen. Mereka memposisikan permintaan ini sebagai uji atas standar tata kelola FIFA, bukan sekadar pertanyaan teknis.
Tenggat yang ditetapkan UEFA habis pada Senin malam, dan hingga saat itu tidak ada jawaban langsung yang disampaikan kepada UEFA. Namun, anggota FIFA Council disebut telah diberi tahu bahwa respons sedang disusun dan akan dibagikan kepada mereka. Posisi FIFA adalah bahwa pertanyaan UEFA terlalu banyak untuk diselesaikan dalam waktu dua minggu, terutama karena Infantino sebelumnya meminta para delegasi di rapat Council bulan lalu mengajukan pertanyaan tertulis sebelum mereka bertemu lagi pada Desember.
Dampak: Jawaban yang Belum Tentu Pulang Bersama Anggota Council
Belum bisa dipastikan apakah anggota Council yang bersedia melakukan perjalanan ke Zurich akan pulang dengan jawaban yang mereka butuhkan. Pemeriksaan dokumen di ruang tertutup, tanpa hak menyalin, dan dengan batas waktu pengajuan kunjungan, membuat proses ini lebih menyerupai pemberian akses terbatas ketimbang keterbukaan penuh. Bagi pihak yang menuntut transparansi, format seperti ini mudah dibaca sebagai upaya mengendalikan informasi, bukan membagikannya.
Tekanan juga datang dari jalur hukum. Pada Agustus, UEFA mengajukan permohonan ke empat pengadilan di Amerika Serikat untuk memperoleh dokumen terkait FFE, dengan tujuan mengajukan komplain pidana di Swiss yang menuduh adanya mismanajemen keuangan. Putusan awal atas permohonan itu belum dijatuhkan, sehingga jumlah informasi yang boleh dilihat bisa ikut terpengaruh oleh perkembangan perkara. Artinya, akses yang dibuka FIFA kepada Council berjalan berbarengan dengan proses hukum yang belum selesai.
Bagi internal FIFA, pembatasan akses ini punya konsekuensi politik tersendiri. Anggota Council yang datang memeriksa dokumen akan menanggung risiko dinilai publik hanya sebagai pelengkap prosedur, sementara UEFA tetap bisa melanjutkan langkah hukumnya. Ketegangan semacam ini berpotensi memperlebar jarak antara federasi dunia dan konfederasi besar, tepat ketika keduanya masih harus bekerja sama mengatur kompetisi internasional.
Konteks Lebih Luas: Tekanan Politik dan Bayang-Bayang Pemilihan Maret
FIFA menilai langkah UEFA sebagai bentuk “harassment” dan “misinformation”, serta membantah Infantino melakukan kesalahan dalam perkara ini. Sikap tersebut menempatkan sengketa ini bukan hanya sebagai persoalan dokumen, melainkan pertarungan narasi tentang siapa yang berhak menilai tata kelola sepak bola dunia. Ketika dua institusi besar saling menuduh, publik yang paling dirugikan adalah mereka yang menunggu kejelasan soal penggunaan dana dan pengambilan keputusan.
Di sisi lain, UEFA dan sekutunya dikabarkan hampir menemukan sosok yang bisa menantang Infantino pada pemilihan Maret mendatang, dengan pergerakan politik kemungkinan terjadi pada awal bulan ini. Nama calon penantang belum diumumkan, tetapi sinyal tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap kepemimpinan FIFA tidak berhenti di ruang surat-menyurat. Kombinasi tenggat 16 November dan kewajiban deklarasi kandidat dua hari setelahnya membuat kalender FIFA terasa berkelindan dengan manuver politik internal.
Pola serupa pernah muncul dalam sejarah panjang sengketa antar-federasi, ketika permintaan dokumen berubah menjadi alat untuk menguji legitimasi kepemimpinan. Yang membedakan situasi kali ini adalah adanya jalur hukum lintas negara, yakni permohonan ke pengadilan Amerika Serikat dan rencana komplain pidana di Swiss. Selama proses itu berjalan, setiap keputusan FIFA soal keterbukaan akan dibaca sebagai sinyal tentang seberapa percaya diri organisasi menghadapi pemeriksaan.
Penutup
FIFA memilih jalan tengah: membuka dokumen FFE, tetapi hanya di ruang tertutup di Zurich, dengan tenggat permohonan 16 November, dan tanpa menjawab langsung lebih dari 50 pertanyaan UEFA yang tenggatnya sudah lewat pada Senin malam. Di sisi lain, UEFA masih menempuh jalur hukum di Amerika Serikat dan menyiapkan komplain pidana di Swiss, sementara FIFA membantah adanya kesalahan dan menuduh UEFA menyebarkan informasi keliru. Ujungnya, transparansi yang dijanjikan masih berupa akses bersyarat yang hasilnya belum bisa dipastikan.
Yang perlu dicermati selanjutnya adalah apakah anggota Council benar-benar memperoleh jawaban setelah memeriksa dokumen, dan bagaimana dinamika pencalonan pada Maret nanti memengaruhi arah sengketa ini. Selama dokumen hanya bisa dibaca tanpa salinan dan pertanyaan tetap tidak terjawab, perdebatan soal tata kelola FIFA kemungkinan besar akan berlanjut di luar ruang rapat.
