Chengdu Rongcheng Terancam Kehilangan Gelar Liga China

Chengdu Rongcheng berada di tepi salah satu kolaps paling mencolok dalam sepak bola Asia. Dengan empat pertandingan tersisa, mereka hanya membutuhkan satu poin untuk meraih gelar pertama di Liga Super China. Kini, ketika hanya satu pertandingan yang tersisa, kebutuhan itu masih sama: satu poin. Bedanya, tugas yang semula terasa seperti formalitas telah berubah menjadi ujian berat yang bisa mengubah sejarah klub.

Keunggulan 12 poin atas Dalian Yingbo telah menyusut menjadi tiga poin menjelang pertandingan Minggu. Tim asuhan John Aloisi, mantan striker Portsmouth dan Coventry, kini harus menghadapi kenyataan bahwa posisinya tidak lagi aman. Musim ini sendiri dimulai dengan situasi tidak biasa: sembilan dari 16 klub di kasta teratas memulai kompetisi dengan poin minus akibat sanksi, sehingga persaingan berjalan jauh dari pola normal dan membuka jalan bagi Chengdu untuk melesat.

Jalan Chengdu Rongcheng Menuju Kolaps

Pekan 10 Oktober seharusnya menjadi momen perayaan. Lebih dari 40.000 pendukung Chengdu sudah bersiap merayakan gelar, tetapi gol tambahan waktu Alberto Quiles membuat Tianjin Jinmen Tiger menang 1-0 dan menunda pesta tersebut. Setelah itu, Chengdu bertandang ke Shanghai Port dan pulang dengan kekalahan 3-0. Pada laga kedua terakhir melawan pesaing langsung Dalian Yingbo, mereka kembali hanya butuh hasil imbang, tetapi kalah 1-0 setelah gagal mengeksekusi penalti di babak pertama dan gol penyama kedudukan pada menit ke-90 dianulir VAR.

Rangkaian hasil itu menjelaskan mengapa posisi Chengdu Rongcheng kini rapuh. Mereka tidak mencetak gol dalam hampir tujuh jam waktu pertandingan, hanya meraih dua kemenangan dari 13 laga terakhir, dan menelan tiga kekalahan beruntun. Catatan tersebut bukan sekadar penurunan bentuk; bagi tim yang sebelumnya hampir tidak kehilangan poin, kombinasi itu menunjukkan bahwa momentum telah berpindah ke pihak lawan.

Dalian Yingbo justru datang dengan empat kemenangan beruntun. Jika mereka menambah kemenangan kelima melawan Tianjin, Chengdu wajib mengambil minimal satu poin di markas Shandong Taishan yang berada di peringkat keempat. Aturan kompetisi membuat situasi makin ketat karena penentuan juara memakai hasil head-to-head sebelum selisih gol. Artinya, Chengdu tidak bisa hanya berharap selisih gol menyelamatkan mereka jika Dalian terus menang.

Dari Poin Minus hingga Persaingan Tak Terduga

Latar belakang musim ini ikut membentuk jalannya persaingan. Sembilan klub memulai dengan poin minus sebagai bagian dari “kampanye khusus untuk menindak pengaturan pertandingan, perjudian, dan korupsi di industri sepak bola”, demikian pernyataan bersama Asosiasi Sepak Bola China, Kementerian Keamanan Publik, dan Administrasi Umum Olahraga. Chengdu termasuk salah satu dari tujuh klub yang memulai dari nol, sementara juara bertahan Shanghai Port kehilangan lima poin dan runner-up Shanghai Shenhua terkena pengurangan 10 poin.

Hukuman itu membuat klub-klub favorit kehilangan tenaga dan menciptakan situasi yang terasa surealis. Chengdu memanfaatkannya dengan membuka keunggulan besar; mereka hanya kehilangan dua poin dari 12 pertandingan pertama. Di saat klub-klub besar kesulitan menemukan ritme, Chengdu justru tampil konsisten dan membuat jarak yang tampak sulit dikejar.

Namun, keunggulan besar tidak otomatis menjadi jaminan. Ketika performa mulai menurun, tekanan berpindah ke pihak yang berada di puncak, sedangkan pengejar bisa bermain lebih lepas. Itulah yang kini terlihat: Chengdu tidak lagi menjadi tim yang mengendalikan nasib dengan nyaman, melainkan tim yang harus bertahan dari kejaran.

Sejarah Sepak Bola Chengdu dan Tekanan di Akhir Musim

Chengdu adalah kota besar di Sichuan yang lebih dikenal karena kuliner pedas, kuil-kuil tenang, dan panda lucu daripada sepak bola. Berbagai upaya pernah dilakukan untuk mengubah citra itu. Pada 2006, Sheffield United membeli klub lokal, tetapi Chengdu Blades akhirnya dibubarkan pada 2015. Empat tahun kemudian, City Football Group membeli saham di Sichuan Jiuniu, tetapi pada 2024 memindahkan klub tersebut ke Shenzhen.

Chengdu Rongcheng sendiri baru dibentuk pada 2018 dan menapaki berbagai divisi hingga akhirnya berada dalam jarak dekat dengan gelar pada musim ini. Bagi kota sebesar Chengdu, peluang meraih titel pertama adalah momen yang langka dan sangat dinanti. Karena itu, tekanan menjelang laga terakhir tidak hanya soal taktik, tetapi juga soal kemampuan menahan beban ekspektasi publik.

Dukungan Terbelah dan Reputasi Suporter

Di luar papan klasemen, ada faktor lain yang membuat situasi Chengdu makin pelik: citra suporter. Dalian dan sekitar 60.000 penonton yang memadati laga kandang disebut sebagai pilihan banyak orang. Chengdu tidak mendapat simpati serupa karena sebagian pendukungnya memiliki reputasi buruk. Pada November lalu, klub didenda sekitar US$70.000 (sekitar £52.200) setelah sejumlah suporter di kandang melakukan pelecehan rasial terhadap striker Ghana milik Henan FC, Frank Acheampong. Beberapa pekan sebelumnya, Chengdu juga didenda US$3.000 setelah suporter yang bepergian melempar botol ke pemain Ulsan HD dalam laga Liga Champions di Korea Selatan.

Denda dan insiden itu membuat narasi sekitar Chengdu tidak hanya berkisar pada sepak bola. Bagi penggemar netral, keputusan untuk mendukung Dalian menjadi lebih mudah karena cerita Dalian terasa lebih romantis: tim yang mengejar dari belakang dan didukung stadion penuh. Sementara itu, Chengdu harus menghadapi kenyataan bahwa tekanan dari dalam dan citra dari luar bisa saling memperkuat.

Meski begitu, sepak bola tidak pernah selesai hanya karena satu narasi. Jika Chengdu mampu mengambil poin di laga terakhir, mereka bisa membungkam banyak keraguan sekaligus menghindari label sebagai tim yang menyia-nyiakan keunggulan 12 poin. Sebaliknya, kegagalan akan membuat catatan musim ini dikenang bukan karena keunggulan 12 poin, melainkan karena cara mereka kehilangannya.

Liga Super China di Jalur Perbaikan, Timnas Masih Jadi PR

Di tingkat liga, ada tanda-tanda perbaikan yang layak dicatat. Rata-rata kehadiran diperkirakan akan berakhir di sekitar 30.000 penonton, naik signifikan dari 25.755 pada musim lalu dan menjadi yang terbaik di Asia. Liga-liga regional juga menunjukkan popularitas, yang memberi indikasi bahwa minat terhadap sepak bola di China tumbuh dari bawah, bukan hanya digerakkan oleh organisasi di atas.

Namun, tim nasional masih menjadi masalah. Kekalahan 5-0 dari Palestina di kandang menjadi pukulan berat karena merupakan kekalahan terbesar keempat dalam sejarah China. Bagi basis penggemar yang sudah terbiasa kecewa, hasil itu tetap sulit diterima. Ada faktor peringan karena sejumlah pemain timnas sedang tampil di Asian Games, di mana China sebenarnya tampil cukup baik dan kalah tipis dari Korea Selatan pada perebutan medali perunggu.

Ada pula sinyal kemajuan di level muda. China mencapai final Kejuaraan Asia U-17 dan U-23 tahun ini sebelum kalah dari Jepang. Dibandingkan dengan negara-negara terbaik Asia lainnya, pemain muda China disebut semakin mendekat secara teknis dan taktis. Untuk naik ke level berikutnya, ekspor pemain ke Eropa tetap diperlukan; jika itu terjadi, beban yang dirasakan timnas senior bisa sedikit berkurang.

Dengan satu pertandingan tersisa, Chengdu Rongcheng masih bisa menyegel gelar jika mengambil satu poin di markas Shandong Taishan. Dalian Yingbo perlu mengalahkan Tianjin Jinmen Tiger agar tekanan tetap terjaga hingga akhir. Apa pun hasilnya, musim ini sudah menghadirkan akhir yang tidak terduga: dari poin minus di awal kompetisi hingga perebutan gelar yang ditentukan oleh hal-hal kecil di pekan terakhir.

Bagi Chengdu, laga terakhir bukan hanya soal trofi, tetapi juga soal cara mereka dikenang. Jika berhasil, kolaps yang hampir terjadi akan berubah menjadi cerita ketahanan. Jika gagal, keunggulan 12 poin yang menguap akan menjadi pengingat bahwa dalam sepak bola, jarak di papan klasemen tidak pernah sepenuhnya aman sampai peluit terakhir berbunyi.