Ruben Amorim akhirnya menjalani derby Milan pertamanya, dan ia melakukannya dengan cara yang nyaris sempurna. AC Milan mengalahkan Inter 3-1 dalam laga yang berlangsung intens, membuka skor pada menit keempat lewat Christian Pulisic dan menggandakan keunggulan enam menit kemudian melalui Adrien Rabiot. Bagi Inter, kekalahan ini adalah yang pertama di Serie A musim ini.
Namun hasil di atas lapangan hanya separuh cerita. Bagi Amorim, pertandingan ini adalah titik temu antara ambisi yang ia simpan sejak kecil dan pekerjaan yang ia mulai Juni lalu. Ia tumbuh sebagai penggemar Milan di Lisbon, mengagumi tim yang ia tonton lewat kaset VHS, dan kini berdiri di pinggir lapangan untuk mengalahkan rival terbesar klub itu. Kemenangan tersebut sekaligus memberi bobot pada klaim pemilik klub, Gerry Cardinale, bahwa Milan serius ingin kembali bersaing memperebutkan Scudetto.
Jalannya Derby Milan: Milan Menyala Sejak Menit Keempat
Milan tidak butuh waktu lama untuk mengambil kendali. Pulisic membuka keunggulan lewat sundulan keras memanfaatkan umpan silang Diego Moreira, buah dari penguasaan bola tanpa putus selama sekitar 80 detik. Sepuluh menit kemudian Rabiot mencetak gol kedua dengan penyelesaian cerdik menggunakan kaki luar di depan gawang setelah situasi sepak pojok.
Dua gol itu lahir dari pertahanan Inter yang buruk, tetapi kualitas rancangan Milan tetap layak diapresiasi. Gol Rabiot merupakan skema latihan yang sudah dipersiapkan matang: Sankhoun Diawara memotong jalur sehingga Hakan Calhanoglu kehilangan kesempatan mengawal Rabiot. Moreira pun tampil nyaris tanpa cela dalam hal umpan silang, menjadikan laga ini sebagai momennya untuk menunjukkan mengapa Milan rela menebusnya lebih dari €50 juta dari Strasbourg pada bursa transfer musim panas.
Inter sempat memberi ancaman serius. Alessandro Bastoni memperkecil kedudukan lewat situasi sepak pojok, dan Djed Spence memaksa Mike Maignan melakukan penyelamatan luar biasa. Namun Milan mendapat tendangan bebas sekitar 20 meter di sisi kanan, dan Moreira meminta Luka Modric membiarkannya mengeksekusi sebelum melepaskan tembakan kaki kiri yang melewati pagar betis dan masuk ke sisi dekat gawang.
Dari Kaset VHS ke San Siro: Perjalanan Ruben Amorim
Amorim bukan pendatang baru yang tiba-tiba terlempar ke laga sebesar ini. Dalam wawancara dengan surat kabar Portugal, Expresso, pada 2017, ia bercerita bahwa masa kecilnya di Lisbon diisi dua klub: Benfica, yang ia tonton langsung sejak masih sangat kecil hingga ayahnya mengenang mengganti popoknya di tribun Estádio da Luz, dan Milan, yang memikatnya dari layar televisi.
Ia menyebut dirinya tumbuh dengan menonton rekaman tim Milan berisi Paolo Maldini, Franco Baresi, Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Dejan Savicevic. Saat itu ia berangan-angan membela Benfica dan Milan, dan setelah satu mimpi tercapai, ia sendiri bergurau bahwa tampaknya ia harus menjadi pelatih untuk mewujudkan yang lain. Butuh sembilan tahun tambahan sebelum ambisi itu benar-benar terwujud.
Milan yang ia warisi pada Juni lalu jelas bukan tim yang ia kagumi di layar kaset. Klub itu baru saja gagal lolos ke Liga Champions untuk dua musim beruntun, dan Rafael Leão, yang digadang-gadang menjadi bintang dekade ini, sudah bersiap mencari tantangan baru di tengah kekecewaan karena potensinya dianggap belum sepenuhnya terwujud. Meski begitu, Amorim sejak hari pertama tampil seperti orang yang baru saja mendapat hadiah terbesar dalam hidupnya.
Rotasi dan Taktik: Taruhan Amorim Berbuah Manis
Kekalahan 4-2 dari Bologna pada pertengahan pekan bisa jadi tidak sepenuhnya kebetulan. Milan kalah setelah sempat memimpin di babak pertama, lalu runtuh di paruh kedua, dan Amorim menyebut anak asuhnya kelelahan. Namun ada indikasi kuat bahwa ia memang menyimpan tenaga untuk derby: Modric dan Pulisic baru masuk sebagai pemain pengganti di laga itu, sementara Mario Gila, Rabiot, dan Moreira bahkan dinilai belum layak masuk daftar cadangan.
Keempatnya langsung menjadi starter saat menghadapi Inter, dan Amorim menambah satu kejutan lagi dengan menempatkan Diawara, pemain berusia 20 tahun yang sebelumnya hanya sekali menjadi starter di posisi bek tengah, sebagai wing-back kiri dalam formasi 3-4-2-1. Di Milan, Amorim tercatat lebih fleksibel secara taktik dibandingkan masa baktunya di Manchester, bergantian memakai tiga atau empat bek. Namun di laga terbesar sepanjang kepelatihannya di klub ini, ia kembali ke pola yang paling ia kuasai.
Di kubu Inter, Cristian Chivu menghadapi masalah berbeda dan mencoba meniru pendekatan serupa. Lini depan timnya sedang krisis: Lautaro Martínez absen berminggu-minggu karena cedera otot hamstring, sementara Francesco Pio Esposito dan Ange-Yoan Bonny tidak layak menjadi starter akibat virus. Chivu mengatasinya dengan mendorong Andy Diouf, mantan gelandang yang bersinar sebagai wing-back, ke posisi sayap kanan di samping Marcus Thuram, dengan Petar Sucic di sisi kiri. Bedanya, Inter tampak ragu dengan sistem baru itu, sedangkan Milan langsung menemukan ritmenya.
Dampak bagi Milan dan Inter: Modal Percaya Diri atau Tekanan Baru?
Hasil ini terasa seperti dorongan besar bagi Amorim, tetapi juga memperlihatkan bahwa Milan belum sepenuhnya meyakinkan. Bahkan saat mengendalikan tempo pertandingan, mereka kerap kehilangan kejelasan di sepertiga akhir. Gonçalo Ramos, rekrutan termahal klub, belum terlihat cocok sebagai penyerang tunggal; ia terlalu sering turun ke belakang ketika timnya justru membutuhkan kehadiran di dalam kotak penalti, dan baru mencetak dua gol dalam 10 penampilan sebagai starter sejak kepindahannya senilai €73 juta dari Paris Saint-Germain.
Pertanyaan taktis juga masih menganga, misalnya apakah masuk akal dalam jangka panjang membiarkan Moreira, seorang wing-back kanan, sering mengambil posisi lebih tinggi daripada penyerang tengah. Amorim sendiri cepat meredam euforia. Ia mengaku bahagia untuk para pendukung dan menyebut pengalaman derby Milan pertamanya berbeda dari laga mana pun yang pernah ia jalani, tetapi ia menegaskan Milan baru bermain bagus, belum hebat, dan tiga poin dari laga ini jumlahnya sama dengan tiga poin yang akan didapat jika mengalahkan Bologna.
Sikap hati-hati itu masuk akal. Milan memang mendominasi derby belakangan ini dengan empat kemenangan beruntun di semua kompetisi dan delapan laga tanpa kekalahan, tetapi mereka belum finis di atas Inter sejak musim 2021-22, kampanye terakhir mereka meraih Scudetto. Di klasemen, Milan masih tertinggal di peringkat kelima dengan 21 poin, sementara Inter berada di posisi kedua dengan 25 poin dan Lazio memimpin dengan 28 poin. Artinya, kemenangan ini memperpendek jarak, bukan menghapusnya.
Serie A yang Berubah dan Konteks yang Lebih Luas
Laga ini juga menjadi cermin perubahan wajah Serie A. Reputasi liga ini sebagai kandang catenaccio sudah sama usangnya dengan perekam kaset milik Amorim, dan musim ini trennya bergerak jauh ke arah sebaliknya dengan rata-rata 3,18 gol per pertandingan. Setelah hampir 10 putaran, baru ada dua laga yang berakhir 0-0 di kompetisi ini, sebuah angka yang menunjukkan betapa terbukanya pertandingan-pertandingan di Italia sekarang.
Meski begitu, Liga Italia belum kembali ke puncak kejayaan lamanya. Tidak ada klub Italia yang menjuarai Liga Champions sejak 2010, dan tidak ada pemain yang membela klub Serie A yang meraih Ballon d’Or sejak 2007. Premier League sudah lama melampaui semua kompetisi saingannya dalam hal pendapatan televisi dan daya belanja, dan hanya segelintir klub super di luar Inggris yang mampu mengimbanginya.
Konteks lain yang tidak bisa diabaikan adalah masa depan markas mereka. Pada pekan yang sama, Milan dan Inter bersama-sama mempresentasikan rencana stadion baru yang akan menggantikan San Siro pada 2031. Kemenangan atas rival sekota menambah bobot pernyataan Cardinale kepada La Gazzetta dello Sport bahwa ia sepenuhnya mendukung “Amorim ball” dan percaya Rossoneri bisa ikut bersaing merebut Scudetto. Di tengah proyek jangka panjang itu, hasil di lapangan menjadi bahan bakar yang membuat narasi kepemilikan terasa lebih masuk akal.
Penutup
Derby Milan pertama Amorim berakhir dengan tiga poin, performa menjanjikan dari Moreira, dan bukti bahwa rotasi agresifnya di pertengahan pekan punya alasan jelas. Namun yang paling menarik dari laga ini bukan sekadar skor 3-1, melainkan bagaimana seorang anak yang tumbuh menonton kaset Milan akhirnya mengalahkan Inter di laga yang paling ia tunggu sepanjang hidupnya.
Tetap ada pekerjaan besar yang menanti: mencari formula agar Gonçalo Ramos lebih tajam, menjaga konsistensi di sepertiga akhir, dan membuktikan bahwa kemenangan ini bukan sekadar momen sesaat. Jika Milan mampu menjawabnya, pernyataan Cardinale soal persaingan Scudetto akan terdengar jauh lebih serius dalam beberapa bulan ke depan.
