Nama Billy Kenny Everton dulu disebut-sebut sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan yang pernah dimiliki sepak bola Inggris. Kini, di usia 53 tahun, ia duduk di Liverpool pada suatu sore di bulan September sambil menghapus air mata berisi luka dan penyesalan. “Saya dulu cuma anak-anak, dan tidak ada seorang pun yang hadir untuk saya,” ujarnya, sebelum menambahkan bahwa ia masih marah kepada Everton karena merasa tidak dijaga oleh klub yang ia cintai sejak kecil.
Kisah Kenny penting bukan hanya karena ia mantan pemain, tetapi karena ia menjadi cermin kelam sebuah era di sepak bola Inggris ketika alkohol merusak banyak pemuda berbakat. Ia dua kali menangis dalam wawancara tersebut, namun menuturkan kisahnya dengan kekuatan yang mentah dan jujur. Semua itu ia tuangkan dalam buku barunya, The Goodison Gazza, yang ditulis oleh jurnalis Guardian, Jamie Fahey, yang tumbuh di jalanan yang sama di Liverpool, dan diterbitkan Reach pada 8 Oktober.
Talenta yang Diperebutkan Tiga Klub Raksasa
Pada masa mudanya, Kenny adalah buruan utama sejumlah klub besar Inggris. Alex Ferguson menginginkannya di Manchester United, Kenny Dalglish menginginkannya di Liverpool, dan Howard Kendall menginginkannya di Everton. Ia memilih Everton, klub yang ia cintai, dan selama beberapa bulan singkat bakatnya bersinar terang, terutama saat ia tampil sebagai man of the match melawan Liverpool di Goodison Park pada Desember 1992.
Rekan setimnya, Peter Beardsley, menjulukinya “Goodison Gazza” — sebuah perbandingan yang ternyata terasa seperti ramalan yang mengerikan. Pada Maret 1993, Kenny sempat sekali membela timnas Inggris U-21. Namun, kejatuhannya kemudian menggemakan persoalan kecanduan dan masalah yang juga dialami Paul Gascoigne.
Jejak kariernya sangat pendek. Kenny hanya mencatatkan 23 pertandingan untuk Everton, empat untuk Oldham, dan dua untuk Barrow. Ia pensiun dari sepak bola profesional pada usia 21 tahun, sekitar dua tahun setelah kebiasaan mengonsumsi kokain yang ia mulai di usia 19 tahun lepas kendali.
Kokain Pertama dan Budaya Minum di Lingkungan Tim
Kenny pertama kali mengenal kokain pada dini hari setelah pertandingan terbaiknya, saat usianya baru menginjak 19 tahun. Kebiasaan itu meningkat sangat cepat dan menghancurkan kariernya. Dalam buku dan wawancara tersebut, ia menggambarkan bagaimana lingkungan tim yang ia masuki sebagai pemain muda justru mendorongnya ke arah minuman keras, jauh sebelum narkoba masuk ke hidupnya.
Ia mengaku awalnya membenci alkohol. Ayahnya tidak pernah menyentuh narkoba seumur hidup, tetapi biasa minum beberapa gelas bir pada Sabtu malam, dan Kenny kecil bahkan mengusir ayahnya dari kamar karena tidak tahan dengan bau ale. Situasi berubah ketika ia mulai bermain bersama para idolanya di tim utama Everton. Kendall, menurut Kenny, selalu ingin pemain pergi ke Sefton, sebuah pub dekat tempat latihan, untuk minum bersama.
Kenny menyebut bahwa hal yang sama dialami pemain yang sebenarnya tidak minum, seperti Neville Southall, Pat Nevin, dan Andy Hinchcliffe, yang akhirnya mengantar rekan-rekan yang mabuk pulang. Ia menilai Kendall seharusnya cukup mengatakan bahwa dirinya masih 18 tahun dan menyuruhnya pulang. Suatu ketika, saat ia berdiri bersama para pemain yang tidak minum sambil memegang segelas sirup blackcurrant dan lemonade, seorang pemain senior menyeletuk, “Sebaiknya kamu minum shandy, Nak, karena [Kendall] akan menjualmu kalau kamu tidak minum.”
Sejak itu, menurut Kenny, ia selalu dalam keadaan mabuk. Ia juga mengisahkan bagaimana untuk laga tandang, hal pertama yang naik ke bus adalah peti-peti lager dan chablis untuk Kendall. Pada salah satu laga tandang awalnya ke London, ia duduk di depan bersama asisten manajer Colin Harvey yang ia sayangi dan mengobrol soal sepak bola, sementara pemain lain minum di belakang. Saat bus keluar dari M57 sekitar pukul setengah dua belas malam, bus berbelok masuk ke Paradox, klub malam terbesar di Liverpool, atas arahan Kendall.
Kontrak Diputus, Kecanduan, dan Jeruji Besi
Pada Januari 1993, Kenny tampil baik melawan Vinnie Jones dan para pemain keras Wimbledon saat Everton menang di kandang lawan. Ia mengalami cedera pergelangan kaki, tetapi Kendall, menurut penuturannya, memujinya dan menyebut akan sangat disayangkan bila ia melewatkan makan malam Chinese food beserta beberapa gelas minuman. Es untuk pergelangan kakinya bisa ditaruh di restoran, dan Kendall menutup dengan kalimat pamungkas: “Kamu akan merasa jauh lebih baik setelah beberapa gelas, Nak.”
Lima bulan kemudian, saat bergelut dengan cedera, Kenny tenggelam dalam kokain dan ekstasi. Ia mengaku mulai lebih mencintai narkoba, perempuan, dan musik ketimbang Everton. Kepribadiannya yang kompulsif membawanya pada pesta pora tiga hari, bolos latihan, dan akhirnya menghilang dari dunia sepak bola. Ketika Everton memutus kontraknya pada 1994, ia merasa ditinggalkan dan menegaskan bahwa yang ia butuhkan saat itu adalah bantuan, dukungan, empati, dan bimbingan — dan ia tidak menerima satu pun dari itu.
Everton sempat mengirimnya ke Priory di Cheshire, tetapi menurut Kenny, ia saat itu berusia 19 tahun dan mengikuti terapi kelompok bersama para pecandu alkohol berusia 60 tahun yang menyembunyikan botol scotch di taman. Ia tidak bisa merasa terhubung dengan terapi itu, meski menjalaninya selama dua bulan, dan Colin Harvey bersama Paul Power datang setiap hari untuk membantunya kembali bugar. Kenny menilai Everton melakukan itu hanya agar bisa menjualnya.
Manchester City berusaha merekrutnya, tetapi Everton mematok harga transfer 1 juta poundsterling yang dianggap terlalu tinggi. Kenny menyebut Everton sudah lebih dulu membuat kesepakatan dengan Oldham di belakangnya, sehingga ia tidak mendapat uang tanda tangan. Di Oldham, yang dilatih Joe Royle — mantan favorit Everton lainnya — ia sempat termotivasi untuk bangkit, tetapi semuanya berantakan ketika Royle pergi, justru untuk melatih Everton.
Pada usia 21 tahun, kehidupan sepak bola Kenny berakhir. Tahun-tahun setelahnya ia lewati dalam labirin narkoba, hingga akhirnya ia dijatuhi hukuman sembilan bulan penjara: enam bulan karena mengemudi di bawah pengaruh alkohol dan tiga bulan karena tidak menghadiri persidangan awal. Ia menjalani lima bulan, rajin ke gym, dan bermain futsal. “Dengan cara yang gila, satu-satunya waktu saya punya kedamaian dalam hidup adalah ketika saya dipenjara,” katanya.
Dampak: Apa Artinya bagi Klub dan Pemain Muda
Kenny menyadari bahwa dirinya bukan malaikat dan mengakui turut berperan atas kehancuran dirinya sendiri. Namun ia juga menegaskan bahwa ada pihak lain yang ikut berperan, dan sampai sekarang, di usia 53 tahun, ia masih merasa pahit serta frustrasi. Dalam pandangannya, bakatnya terbuang sia-sia, dan para penggemar Everton pun ikut kehilangan sosok yang seharusnya bisa mereka banggakan.
Ia membandingkan kondisinya dengan situasi pemain saat ini. Kenny mengaku berbicara dengan Michael Branch, mantan pemain Everton yang juga berakhir di penjara, dan Branch mengatakan bahwa di Finch Farm — tempat latihan Everton — kini ada 17 orang yang bisa diajak bicara soal kesehatan mental, entah itu soal minuman, narkoba, keluarga, atau pasangan. Menurut Kenny, dulu tidak ada seorang pun yang bisa ia ajak bicara seperti itu.
Dari perbandingan itu muncul pertanyaan yang ia renungkan terus: bagaimana hidupnya akan berbeda jika ia lahir sebagai pemain berbakat di era sekarang? Ia yakin ia tidak akan berbicara tentang kesengsaraan, melainkan tentang masa kejayaan dan gelar untuk Everton. Ia merasa masa itu telah dicuri darinya, dan para penggemar pun ikut kehilangan kesempatan menyaksikan versi terbaik dirinya.
Kenny juga melontarkan kritik tajam terhadap kondisi klub. Melihat stadion baru Everton dari tempat ia duduk, ia mengaku sudah kembali menonton klub yang dulu sangat ia cintai. Namun ia menilai banyak mantan pemain yang mengaku terhubung dengan Everton adalah “Evertonian buatan”, dan menurutnya itulah sebabnya klub tidak bergerak maju. Baginya, satu-satunya legenda klub adalah para penggemar, sementara Everton tetap ia lihat sebagai klub yang tidak pernah menjaganya.
Konteks Lebih Luas: Alkohol, Kesehatan Mental, dan Pilihan Klub
Kisah Kenny adalah potret tajam tentang satu periode dalam sepak bola Inggris ketika minuman keras melumpuhkan begitu banyak pemuda. Figur kompleks Howard Kendall berada di jantung cerita yang patah ini: ia membentuk lini tengah yang tak terlupakan bersama Colin Harvey dan Alan Ball sebelum menjadi salah satu manajer tersukses dalam sejarah Everton, sekaligus sosok yang memiliki persoalan alkoholnya sendiri. Kenny mengaku tidak menyimpan kebencian, tetapi ia tetap bertanya-tanya dari mana kecanduan Kendall berasal.
Kenny juga sempat membayangkan bagaimana hidupnya jika ia memilih klub lain. Liverpool sangat ingin merekrutnya saat remaja, bahkan mengatur perjalanan ke dan dari Wembley bersama skuad tim utama pada final Piala FA 1988 ketika ia berusia 14 tahun. Manchester United juga memberinya kesempatan enam minggu selama liburan musim panas, dan di sana ia melihat bagaimana Ferguson menyingkirkan pemain seperti Kevin Moran, Paul McGrath, Norman Whiteside, Bryan Robson, dan kemudian Lee Sharpe, karena tidak mentoleransi kebiasaan minum atau kurangnya disiplin.
Menurut Kenny, dirinya akan cocok bermain di bawah Ferguson, yang ia sebut menyukainya, dan ia juga menyukai suasana di United. Kendati demikian, ia mengaku jika harus mengulang semuanya, ia mungkin tetap akan memilih Everton karena mencintai para penggemar dan merasa menjadi bagian dari mereka. Pilihan itu, pada akhirnya, menjadi babak paling menentukan dalam hidupnya.
Saat ini Kenny mengaku sudah bersih dari minuman keras dan narkoba sejak ibunya meninggal 15 tahun lalu, tepat pada hari pemakaman sang ibu. Ia masih mengalami depresi, dan hal itu tetap datang meski paginya berjalan baik. Namun ia menyebut kini ia bisa mendapatkan tiga atau empat hari baik dalam sepekan — sesuatu yang tidak ia rasakan selama 25 tahun, ketika harinya hanya diisi dengan menangis di rumah atau keluar dalam keadaan tidak sadar. Kebiasaan lama tidak lagi ia tempuh: ia tidak mendatangi pub dan tidak menelepon siapa pun untuk mencari narkoba.
Penutup
Perjalanan Billy Kenny adalah pengingat bahwa bakat besar tidak cukup untuk bertahan di puncak, terutama bila lingkungan di sekitarnya tidak menyediakan perlindungan bagi pemain yang masih sangat muda. Dari pujian sebagai “Goodison Gazza” hingga hukuman penjara, hidupnya menunjukkan bagaimana alkohol dan narkoba bisa memangkas karier yang seharusnya bersinar panjang. Ia sendiri menyimpulkan bahwa dirinya adalah produk dari lingkungan yang ia masuki, dan bahwa tidak ada bantuan berarti yang datang saat ia paling membutuhkannya.
Namun kisah ini juga menyisakan secercah harapan. Kenny kini bertahan dengan kesepakatan pribadinya untuk tidak kembali ke narkoba, dan ia belajar hidup berdampingan dengan depresi yang belum sepenuhnya pergi. Buku The Goodison Gazza yang diterbitkan Reach pada 8 Oktober menjadi catatan jujur dari seorang mantan pemain yang, meski terlambat, akhirnya menemukan cara untuk bersuara. Untuk pembaca di Inggris, dukungan kesehatan mental tersedia melalui Mind di 0300 123 3393 dan Childline di 0800 1111; di Amerika Serikat melalui Mental Health America di 988; serta di Australia melalui Beyond Blue di 1300 22 4636, Lifeline di 13 11 14, dan MensLine di 1300 789 978.
