Mancini Akui Kontrak Ganda Manchester City, Bantah Bersalah

Roberto Mancini seolah membenarkan bahwa dirinya pernah menjalani kontrak ganda selama menangani Manchester City. Kendati demikian, pelatih yang kini menakhodai tim nasional Italia itu menegaskan bahwa klub tersebut tidak bersalah, bahkan setelah dinyatakan melanggar aturan keuangan Premier League oleh sebuah komisi independen.

Pernyataan Mancini menjadi perhatian besar karena ia adalah sosok yang membawa City meraih gelar juara Premier League pertama pada 2012. Kasus yang menjerat City bukan perkara sepele: klub itu dinyatakan bersalah atas sebagian besar dari lebih dari 100 tuduhan terkait dugaan pelanggaran aturan finansial kompetisi. Kontroversi ini pun menyeret kembali nama mantan manajer yang pernah menjadi bagian dari fondasi kesuksesan City modern.

Pengakuan Mancini soal Kontrak Ganda Manchester City

Berbicara dalam konferensi pers tim nasional Italia menjelang laga Nations League melawan Turki pada Senin, Mancini menyebut persoalan tersebut bukan urusannya. “Ini bukan masalah yang menyangkut saya,” ujar pria berusia 61 tahun itu kepada awak media.

Ia menilai isu semacam ini bukan hal baru dalam sepak bola. Menurut Mancini, kasus serupa muncul berulang setiap empat atau lima tahun, dan ia tetap menegaskan bahwa Manchester City tidak bersalah. “Fakta memiliki kontrak ganda bukan masalah saya, tapi masalah mereka, mungkin,” katanya menambahkan.

Salah satu elemen dalam kasus terhadap City adalah investigasi atas rincian pembayaran kepada para pemain dan manajer sepanjang periode 2009 hingga 2018. Majalah Jerman, Der Spiegel, memperoleh bukti bahwa Mancini menggandakan gaji pokoknya senilai £1,45 juta dengan cara menjadi penasihat bagi sebuah klub di Abu Dhabi.

Jejak Mancini dan Fondasi Kesuksesan City

Mancini menangani City selama empat tahun dan menorehkan sejarah dengan mempersembahkan gelar Premier League pertama bagi klub tersebut pada 2012. Pencapaian itu menjadi puncak dari era awal kepemilikan Sheikh Mansour, yang perlahan mengubah City menjadi kekuatan baru di sepak bola Inggris.

Selain Premier League, Mancini juga mengangkat trofi Piala FA. Kedua gelar itu merupakan trofi pertama di masa kepemilikan Sheikh Mansour dan menjadi fondasi bagi kesuksesan-kesuksesan berikutnya yang diraih City di bawah pelatih-pelatih setelahnya.

Masa baktinya di City berakhir pada 2013, tepat setelah klub menelan kekalahan dari Wigan Athletic di final Piala FA. Meski akhirnya berpisah, warisan Mancini tetap melekat dalam perjalanan City menuju status sebagai salah satu klub terkuat di Inggris.

Sikap Manchester City dan Pernyataan Ferran Soriano

Manchester City konsisten membantah melakukan pelanggaran apa pun. CEO klub, Ferran Soriano, dilaporkan menyatakan bahwa City akan berjuang untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersalah dalam perkara ini.

Soriano sempat menolak berkomentar kepada awak media ketika tiba di Kopenhagen untuk menghadiri general assembly kelompok lobi European Football Clubs (EFC) pada Selasa. Namun dalam pertemuan malam yang dihadiri dewan pengurus EFC, ia justru mengejutkan peserta dengan berdiri dan menyampaikan pernyataan singkat.

Menurut sumber yang hadir dalam pertemuan tersebut, Soriano merasa perlu membuat pernyataan singkat. Ia ingin memperjelas bahwa dirinya tidak setuju dengan putusan komisi independen, sekaligus menegaskan bahwa ia dan City yakin akan memenangkan pertarungan ini. Sikap itu dibaca sebagai konfirmasi implisit atas putusan komisi, yang memang belum pernah dibantah secara resmi oleh City.

Dalam pertemuan itu turut hadir Jean-Claude Blanc, kepala Ineos Sport sekaligus pengurus hubungan sepak bola internasional Manchester United, serta pemilik Everton, Dan Friedkin, yang hadir dalam peran serupa dengan AS Roma. Kehadiran sejumlah nama penting tersebut menambah bobot momen ketika Soriano melontarkan komentarnya yang tak terduga.

Dampak dan Ketidakpastian yang Masih Menyelubungi

Hingga kini, putusan komisi independen tersebut belum dikonfirmasi secara resmi, meski Manchester City juga tidak membantahnya. Premier League belum memberikan komentar apa pun maupun indikasi kapan putusan lengkap akan dipublikasikan. Kondisi ini membuat situasi masih menyisakan ketidakpastian bagi seluruh pihak yang terlibat.

Ketidakpastian tersebut menempatkan City di antara dua tekanan sekaligus. Di satu sisi, klub harus menjaga performa dan stabilitas tim di lapangan; di sisi lain, mereka menghadapi proses hukum yang bisa memengaruhi reputasi dan citra klub di mata publik maupun mitra bisnisnya.

Bagi industri sepak bola secara lebih luas, kasus ini menjadi pengingat bahwa tata kelola keuangan klub kini berada di bawah pengawasan yang jauh lebih ketat dibanding satu dekade lalu. Setiap klub dituntut transparan dalam melaporkan pembayaran kepada pemain, pelatih, maupun pihak ketiga. Pelanggaran terhadap aturan tersebut berpotensi menimbulkan konsekuensi yang tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga menyangkut kepercayaan publik.

Konteks Lebih Luas Sepak Bola Eropa

Kasus ini bukanlah insiden tunggal di sepak bola Eropa, melainkan bagian dari tren panjang pengetatan regulasi keuangan klub. Otoritas liga di berbagai negara semakin serius menegakkan aturan agar persaingan tetap sehat dan tidak hanya dikuasai klub dengan sumber daya finansial raksasa. Dalam kerangka itu, transparansi pembayaran menjadi salah satu titik rawan yang paling sering disorot.

Nama Mancini pun menjadi penting karena ia bukan sekadar mantan pelatih biasa bagi City. Ia adalah arsitek awal era kejayaan klub, sehingga pernyataannya soal kontrak ganda menyita perhatian publik sepak bola Inggris. Kombinasi antara statusnya sebagai figur bersejarah City dan isu aturan keuangan membuat kasus ini sulit dipisahkan dari narasi besar tentang bagaimana kekuasaan finansial mengubah wajah kompetisi.

Ke depan, perhatian akan tertuju pada dua hal: keputusan resmi yang akan dipublikasikan otoritas liga, serta langkah apa yang diambil City untuk mempertahankan posisinya. Selama putusan itu belum dipublikasikan, wacana dan spekulasi seputar kasus ini kemungkinan besar akan terus bergulir di ruang publik.

Mancini akhirnya memilih bersikap tenang dan menyerahkan persoalan kontrak ganda sepenuhnya ke pihak klub, sementara City bergerak di jalur berbeda dengan bersiap membela diri. Dua sikap yang saling bertolak belakang ini justru mempertegas bahwa persoalan tersebut masih jauh dari kata selesai.

Yang jelas, kasus ini bukan hanya soal satu kontrak atau satu angka gaji, melainkan soal bagaimana aturan keuangan diterapkan di level tertinggi sepak bola Inggris. Selama putusan resmi belum diumumkan, publik hanya bisa menantikan kelanjutan dari salah satu kasus paling menyita perhatian dalam sejarah Premier League modern ini.