Pembawa acara sekaligus kolumnis Max Rushden ikut menyoroti siaran Liga Champions Wanita milik Disney+ pada pekan ini, dan ia melakukannya dengan nada yang jauh lebih memahami daripada kebanyakan kritikus. Dalam tulisannya, Rushden mengaku sudah memproduksi banyak program televisi buruk, sejumlah acara radio di bawah rata-rata, dan puluhan podcast yang tidak akan dikenang siapa pun. Ia juga menyebut pernah punya ide bagus, bahkan sesekali ide hebat, yang tidak pernah sampai ke layar, sementara ide buruknya jauh lebih banyak. Karena pengalaman itulah ia merasa punya modal untuk mengulas malam perdana program bertajuk The Hangout.
Ulasan tersebut penting bukan hanya karena isinya. Perdebatan yang muncul menyentuh pertanyaan yang lebih besar soal bagaimana sepak bola wanita seharusnya disiarkan, siapa yang layak tampil sebagai pengulas, dan mengapa standar penilaian terhadap pertandingan pria terasa berbeda. Kritik datang dari penggemar lama, jurnalis, hingga sesama penyiar, sementara Rushden mencoba menjelaskan logika di balik keputusan Disney+ tersebut.
Format The Hangout dan Isi Siaran Liga Champions Wanita Perdana
Program The Hangout dipandu Alex Scott bersama mantan pemain timnas Inggris Lianne Sanderson, dua kreator konten Tyra Mills dan Alex Bailess, serta seekor golden retriever bernama Barley Boy. Anjing itu disebut memiliki 82.000 pengikut Instagram lebih banyak dibandingkan Rushden, yang mengaku perlu memperbaiki konten reels-nya. Komposisi pengisi acara inilah yang langsung menarik perhatian banyak pihak.
Isi acaranya memuat sejumlah segmen ringan, termasuk kuis tentang Italia. Penonton diajak menebak nama Italia untuk kata sepak bola dan menebak pasta apa yang sedang dimasak oleh reporter di Milan. Momen yang paling banyak dibicarakan adalah gambar diam panel acara yang menatap tumpukan farfalle di layar besar, layar yang biasanya dipakai untuk menampilkan susunan pemain atau insiden penting pertandingan.
Rushden menyampaikan pengalamannya dengan nada santai, karena ia memang pernah membawakan acara televisi dari hampir semua ketinggian. Ia mengaku pernah duduk di sofa, di kursi biasa, di kursi di balik meja, di bangku bar di dalam pub, di bangku bar di luar pub, hingga berdiri meski ada tempat duduk nyaman yang berada di luar bingkai kamera. Ia banyak mengeluh saat itu, tetapi berdiri ternyata berhasil, “Murray”.
Kritik dan Standar Ganda Dibandingkan Kompetisi Pria
Reaksi pertama datang dalam bentuk campuran kebingungan dan kemarahan dari kalangan yang lama mencintai sepak bola wanita. Kathryn Batte menulis kritik yang, menurut Rushden, mudah dipahami untuk Telegraph. Sementara penyiar Flo Lloyd-Hughes melontarkan sindiran tajam di X bahwa liputan Liga Champions Wanita Disney+ terasa paling mirip tayangan sepak bola kanal anak-anak, dan ia bahkan menyebut tak akan kaget jika ada peserta yang disiram lendir karena salah menebak atau karakter Raven muncul sebagai bintang tamu. Ia mengaku harus terus mengingatkan diri bahwa ini bukan mimpi.
Yang konsisten dalam semua kritik itu adalah kenyataan bahwa Liga Champions pria tidak akan pernah disiarkan dengan cara yang sama. Rushden pun melempar pertanyaan mendasar: mengapa pengulas mantan pemain digantikan kreator konten, mengapa analisis taktik digantikan pertanyaan tentang kota terbesar di Italia, dan mengapa harus ada anjing di studio. Pertanyaan-pertanyaan itu menyiratkan kekhawatiran bahwa sepak bola wanita diperlakukan sebagai tontonan ringan, bukan sebagai produk olahraga yang serius.
Penyiar Marva Kreel merumuskan salah satu persoalan intinya dengan tepat di X. Menurutnya, masalah besar dalam penyiaran sepak bola wanita adalah perdebatan antara analisis dan pundit melawan kreasi konten serta kesenangan yang dibuat-buat, karena sepak bola pria bisa mendapatkan keduanya dalam acara yang berbeda-beda. Di sepak bola wanita hanya ada satu acara, sehingga acara itu dipaksa melakukan semua hal sekaligus, dan di situlah masalahnya muncul.
Alasan di Balik Pendekatan Disney+
Rushden mengaku bisa memahami jalan pikiran di balik keputusan tersebut. Ia membayangkan para petinggi meminta produser menarik penonton yang lebih muda, sebuah arahan yang juga pernah ia terima sendiri. Masalahnya, cara terbaik untuk melakukannya memang sulit dirumuskan, sampai-sampai ia bertanya-tanya apakah referensinya ke Jossy’s Giants dan Aswad harus dihentikan. Disney+ sendiri bisa berargumen bahwa sebagian besar kritik tidak datang dari penonton muda, melainkan dari orang yang sudah punya ekspektasi tertentu tentang bagaimana pertandingan seharusnya dibahas.
Ada pula kemungkinan bahwa Disney+ bersikap sinis terhadap reaksi yang muncul. Apa pun penilaian orang, nama acara itu jadi dibicarakan dan ditulis di banyak tempat, sementara penonton fanatik tetap akan menonton. Seandainya mereka menyajikan liputan yang lebih tradisional, tidak akan ada yang membicarakannya sama sekali. Rushden menilai kadang memang perlu mencoba sesuatu yang berbeda, dan ia tak ingin bersikap terlalu keras karena Disney+ mungkin akan memberinya pekerjaan suatu hari nanti.
Tekanan ekonomi membuat pilihan itu makin masuk akal bagi pengelola siaran. Rushden menuturkan penyiar besar kini punya uang lebih sedikit untuk menghasilkan jumlah tayangan yang sama, dan selama 20 tahun terakhir mereka berjuang mencari cara memanfaatkan media sosial. Pengalaman di Sky menjadi contohnya: siaran langsung Facebook yang direkam dengan iPhone di ruang tunggu bisa mendapat jumlah penonton sebanyak acara itu sendiri, padahal biaya studio, pencahayaan, suara, dan produser jauh lebih besar.
Rushden juga mengakui ketidaksukaannya pada istilah “kreator konten”, meski ia menduga itu lebih karena kecemasan bahwa suatu hari profesi tersebut akan mengambil semua pekerjaannya. Ia menilai Bailess dan Mills tampil ramah dan menyenangkan, sesuai dengan arahan acara, dan tak ada yang bisa dikritik hanya karena menerima pekerjaan. Keduanya juga membawa pengikut masing-masing, meski seberapa besar jumlah pengikut itu berujung pada langganan berbayar adalah pertanyaan yang berbeda.
Posisi Alex Scott dan Perdebatan Budaya yang Lebih Luas
Rushden menyatakan simpatinya kepada Alex Scott yang menurutnya selalu berada di tengah semacam perang budaya. Ia menegaskan bahwa siapa pun berhak menilai Scott sebagai penyiar terbaik atau terburuk di generasinya, atau berada di antaranya, sebagaimana orang menilai dirinya. Ia bahkan mengakui banyak pendengar menilai kemampuannya dengan penilaian yang jauh dari pujian.
Bagian yang ia rasa paling mengganggu adalah perdebatan seputar berakhirnya Football Focus. Ada yang menuding acara itu jadi “woke” dan kehilangan arah sejak Scott ditunjuk sebagai pembawa acara. Menurut Rushden, tudingan semacam itu lebih pantas dialamatkan kepadanya, yang dianggapnya lebih mungkin membuat Soccer AM jadi “woke” berkat klarinet, pandangan politiknya, dan ketidakmampuannya menggoda di televisi langsung. Namun ia menyadari posisinya berbeda karena ia bukan perempuan dan ia berkulit putih, sehingga tuduhan yang diterimanya umumnya hanya soal membuat acara jadi buruk.
Kembali ke The Hangout, Rushden menduga Scott tidak mengusulkan kehadiran anjing di studio atau kuis pasta tersebut. Ia mengakui tidak tahu seberapa besar kendali editorial yang dimiliki Scott, tetapi dalam banyak situasi seorang pembawa acara memang harus mengerjakan apa yang diperintahkan dan melakukannya dengan penuh keyakinan. Baginya, menyalahkan sosok di depan kamera untuk setiap keputusan format adalah kesimpulan yang terlalu cepat.
Apa yang Sebenarnya Dicari Penonton Sepak Bola
Realitas liputan sepak bola langsung, menurut Rushden, sebenarnya sederhana: orang menonton karena ingin menyaksikan pertandingannya. Jika ingin komedi, penonton akan memilih Curb Your Enthusiasm, dan jika Liverpool bermain melawan Real Madrid, penggemar tetap menonton lalu menikmati atau menahan diri terhadap kualitas liputannya. Tugas penyiar adalah membuat liputan itu sekompeling mungkin, dan ada banyak cara untuk menjadi pembawa acara atau pundit yang baik.
Ia juga mencatat bahwa format liputan sepak bola langsung tidak berubah banyak dalam 50 tahun. Polanya tetap: pembukaan, kabar tim, komentar manajer, sedikit taktik atau sorotan pemain, lalu diserahkan ke komentator. Saat turun minum pertanyaannya “bagaimana pendapatmu”, dan saat laga usai pertanyaannya tetap sama, tanpa perlu tambahan atraksi apa pun.
Yang menarik, anjing itu tidak muncul lagi pada malam kedua siaran. Rushden membayangkan hari itu pasti terasa aneh dan sulit bagi semua pihak: mereka membuat acara, penonton tidak menyukainya, dan mereka harus tampil lagi keesokan harinya. Pilihannya adalah bertahan dengan konsep awal, mengabaikan para pengkritik, atau perlahan bergerak ke arah format yang lebih tradisional, dan pada Rabu tampaknya pilihan terakhir yang diambil.
Dari seluruh perdebatan ini, satu hal yang tampaknya disepakati Rushden dan para pengkritiknya adalah pentingnya rasa hormat terhadap pertandingan itu sendiri. Penonton baru memang tidak bisa diciptakan secara instan, tetapi penyiar bisa membuat orang merasa bahwa mereka menghargai pertandingan dan menghibur tanpa harus menghadirkan binatang di studio. Dengan begitu, penonton akan kembali menonton, sedangkan format yang terasa meremehkan kompetisi berisiko menjauhkan justru penggemar yang paling setia.
Kritik terhadap siaran Liga Champions Wanita Disney+ karena itu bukan sekadar keluhan soal selera, melainkan pengingat bahwa sepak bola wanita kini diperhatikan dengan serius. Ketika sebuah tayangan dinilai, penilaiannya akan dibandingkan dengan standar yang berlaku di sepak bola pria, dan itulah bentuk keadilan yang sebenarnya diinginkan banyak orang. Pada akhirnya, cara paling elegan untuk memenangkan penonton baru adalah memperlakukan pertandingan sebagai pertandingan, bukan sebagai bahan lelucon.
